Postingan

Agustus, 2019.

 Kasih, aku tahu engkau bersinar. Kemegahan membuat rangkaian langit kelam menjadi terang. Namun engkau perlu tahu, ketika engkau tenggelam, aku selalu menantimu untuk kembali bangkit. Bukan rangkaian langit lain yang kau tanggapi itu. Sedangkan aku di sini kau nafikan keadaannya. Bahkan hingga kau sudah tak berkenan untuk menyinariku lagi. Uraian dan anggapan tentang kepribadianku yang berantakan terhadap makhluk lain selalu engkau perdebatkan. Padahal selama ini hanya engkau yang aku tunggu kedatangannya. Dan pada kenyataannya, engkau telah mengakui bahwa engkau sedang membicarakan dirimu sendiri. Ingin aku kata-katai dirimu. Tapi kelu lidahku tak rela menyakiti hatimu. Melihatmu sedih karena hal lain saja aku tak ingin. Apalagi melihat kau sedih karenaku. Meskipun ya memang hal itu mungkin wajar saja aku keluarkan Dirinya, dia, atau siapapun kau menyebutnya aku tak pernah tahu. Keadaanku di sini hanyalah mempercayai seluruhnya kepadamu. Tak bisa aku kontrol 24/7 hubungan sosialm...

Uzlah Cinta dalam Ruang Cahaya

Gambar
#RuangCahaya bukan hanya seonggok tumpukan kertas yang dijilid dan dibubuhi nama penulisnya. #RuangCahaya bukan hanya sekadar pembuktian bahwa penulisnya mampu mematahkan ekspektasi orang lain terhadap dirinya. #RuangCahaya bukan kisah percintaan antar dua insan semata. #RuangCahaya bukan diciptakan untuk menaikkan derajat penulisnya hingga tak sampai kepada masyarakat bawah lagi. #RuangCahaya bukan buaian yang terus menerus dikhayalkan dan diceritakan khayalak banyak. #RuangCahaya bukan kitab suci yang selamanya akan dipuja oleh para pengikutnya. #RuangCahaya bukan sekadar karangan tanpa melewati batasan waktu ke depannya. Akan tetapi, Ruang Cahaya adalah tempatku bernaung. Sesederhana apapun dekorasinya, selusuh apapun permadaninya, seberantakan apapun perabotnya, itu adalah ruangku. Tak ada yang berhak mengganggunya kecuali Tuhan telah mengizinkannya. Selamat datang di dunia, Ruang Cahaya. Semoga engkau mampu bertahan hidup dan kembali kepada cah...

Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya

Gambar
Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal bulan Desember akan terangkat kembali isu lama yang masih hangat untuk diperbincangkan. Media televisi, koran harian, hingga media sosial kembali ramai adanya. Di balik layar, PA 212 siang malam bekerja untuk menyukseskan pertemuan tahunan itu. Tak peduli apa yang dikatakan oleh para narasumber yang terus berdebat di layar kaca, mereka terus bahu membahu agar tepat pada tanggal 2 Desember nanti kesan syahdu pada 2 Desember sebelumnya dapat dirasakan kembali. Persiapan lokasi, logistik, bahkan edaran-edaran terus dibagikan demi terselenggaranya pertemuan ini dengan baik. Dukungan dari berbagai daerah Indonesia terdengar ramai. Banyak berita yang menyebutkan mereka berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, menyewa 1 pesawat, dan lain sebagainya. Di sisi lain, para petinggi organisasi masyarakat Islam lainnya banyak diundang di stasiun televisi. Untuk pertanyaannya, tak lain tak bukan tentang seberap...

Menikmati Posisi Insanun Adilun

Gambar
Malang, 18 September 2019. 23:59 Oleh: Fatwa Azmi Syahriza (@fatwazmi)     Ketika Tuhan menciptakan manusia dengan ‘mantra’ Kun Fayakun nya, manusia telah didaulat menjadi khalifah yang bertugas dengan khilafahnya di muka bumi ini. Manusia telah dihukumkan Tuhan untuk mengemban beban yang makhluk lain mengundurkan diri untuk menunaikannya. Dengan alasan diciptakan Tuhan menjadi makhluk yang paling sempurna, manusia dianggap lebih mulia dibanding makhluk lainnya. Bahkan, seperti yang terdapat dalam kisah di zaman Nabi Sulaiman AS tatkala meminta rakyatnya memindahkan singgasana Ratu Bilqis, seorang manusia sepuh berhasil mengalahkan jin dan mengukuhkan kehebatannya dibanding jin tersebut. Sudah semestinya dalam diri khalifah terdapat berbagai elemen akhlakul karimah yang lebih. Jika ditanyakan tentangnya, tentunya sifat-sifat seperti Adil, Jujur, dan Taqwa akan menjadi jawaban yang tepat.     Berbagai kisah tentang para pemimpin adil sudah berteba...

Pancasila Is Me

Pancasila merupakan Ideologi sakral yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Ideologi yang menjadi satu-satunya ideologi bangsa di dunia ini mempunyai jalan sejarah yang sangat panjang. Perjalanannya berlika-liku dan banyak mengalami rasa dukungan serta pertentangan. Pancasila dilahirkan untuk memeluk seluruh suku, bangsa, juga agama yang hidup berdampingan di Indonesia. Berbagai golongan menantikan suatu ideologi yang mampu menempatkan perbedaan menjadi sebuah kekuatan. Terlebih lagi agama Islam yang menjadi agama mayoritas di negeri ini. Islam mempunyai peran yang sangat penting meski tanpa menafikan yang lainnya. Para penggagas pancasila yang banyak beragama Islam tidak memikirkan kepentingan golongannya sendiri. Malah, penganut agama Islam yang hampir berjumlah 80% dari jumlah warga Indonesia harus bisa berbuat adil terhadap yang lainnya. Lahirnya pancasila tak bisa diabaikan dari rumusan pancasila yang digagas oleh panitia sembilan dengan ketuanya yakni Bung Karno pada tanggal 1...

Kasih tanpa kekangan.

Kasih, aku tahu engkau bersinar. Kemegahan membuat rangkaian langit kelam menjadi terang. Namun engkau perlu tahu, ketika engkau tenggelam, aku selalu menantimu untuk kembali bangkit. Bukan rangkaian langit lain yang kau tanggapi itu. Sedangkan aku di sini kau nafikan keadaannya. Bahkan hingga kau sudah tak berkenan untuk menyinariku lagi. Uraian dan anggapan tentang kepribadianku yang berantakan terhadap makhluk lain selalu engkau perdebatkan. Padahal selama ini hanya engkau yang aku tunggu kedatangannya. Dan pada kenyataannya, engkau telah mengakui bahwa engkau sedang membicarakan dirimu sendiri. Ingin aku kata-katai dirimu. Tapi kelu lidahku tak rela menyakiti hatimu. Melihatmu sedih karena hal lain saja aku tak ingin. Apalagi melihat kau sedih karenaku. Meskipun ya memang hal itu mungkin wajar saja aku keluarkan Dirinya, dia, atau siapapun kau menyebutnya aku tak pernah tahu. Keadaanku di sini hanyalah mempercayai seluruhnya kepadamu. Tak bisa aku kontrol 24/7 hubunga...
Bismillahirrahmaanirrahiim. Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammadin Thibbil Quluubi wa Daawaaihaa wa 'Aafiyaatil Abdaani wa Syifaaihaa wa Nuuril Abshaari wa Dhiyaaihaa wa 'Alaa Aalihii wa Shahbihi wa Sallim. Sesak nafasku terus mengiringi hariku kini. Entah apa diagnosanya, aku merasa tak ada posisi yang tepat untukku sekarang. Berdiri terasa sesak, berbaring sesak, duduk pun begitu. Setiap hembusan nafasku, aku berusaha sekuat mungkin melupakan sesak itu dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Dan bodohnya, Ventolin aku tinggal begitu saja di Malang. Padahal selama di sana, benda itu senantiasa ada di jangkauanku meski tak ada gejala apa-apa. Menulis dengan tangan yang masih diinfus sangatlah berat, tapi bagaimanapun kondisinya, aku harus tetap menulis. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Mungkin aku perlu beristirahat sejenak menjauhi segala maksiat dan fananya dunia. Tuhan memperingatkanku dengan memberinya rasa sakit ini. Aku tak mau mengeluh dan...