Bismillahirrahmaanirrahiim.
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammadin Thibbil Quluubi wa Daawaaihaa wa 'Aafiyaatil Abdaani wa Syifaaihaa wa Nuuril Abshaari wa Dhiyaaihaa wa 'Alaa Aalihii wa Shahbihi wa Sallim.
Sesak nafasku terus mengiringi hariku kini. Entah apa diagnosanya, aku merasa tak ada posisi yang tepat untukku sekarang. Berdiri terasa sesak, berbaring sesak, duduk pun begitu.
Setiap hembusan nafasku, aku berusaha sekuat mungkin melupakan sesak itu dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Dan bodohnya, Ventolin aku tinggal begitu saja di Malang. Padahal selama di sana, benda itu senantiasa ada di jangkauanku meski tak ada gejala apa-apa.
Menulis dengan tangan yang masih diinfus sangatlah berat, tapi bagaimanapun kondisinya, aku harus tetap menulis.
Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Mungkin aku perlu beristirahat sejenak menjauhi segala maksiat dan fananya dunia. Tuhan memperingatkanku dengan memberinya rasa sakit ini. Aku tak mau mengeluh dan harus tetap bersyukur. Alhamdulillah, Engkau masih mau memperingatkanku.
Terlalu banyak dosaku di dunia ini. Namun, kasih sayangMu tentunya lebih melimpah terhadapku. Aku yakin, Engkau mau menghapus dan membuang jauh-jauh dosaku kan?
Aku tak berpikir sampai sejauh mana nantinya, tetapi aku selalu yakin Tuhan amat sayang kepadaku. Aku tak pernah meragukan itu, meskipun aku sendiri lalai dalam merespon kasih sayangNya.
Tuhan, aku hanya malu. Apa aku terlalu lemah? Tubuhku masih mampu menendang bola dengan tepat. Tapi kini aku terbaring di atas paramount bed.
Beruntungnya aku memiliki keluarga yang kuat. Abi, mama, bg faza. Meskipun aku selalu menahan diri untuk mengeluh, tapi mereka selalu paham akan keadaanku.
Bukannya aku lebay, i want to write everything about my life until Allah take me back.
Bismillah, engga ada apa-apa.
Siloam, 28 Juli 2019
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammadin Thibbil Quluubi wa Daawaaihaa wa 'Aafiyaatil Abdaani wa Syifaaihaa wa Nuuril Abshaari wa Dhiyaaihaa wa 'Alaa Aalihii wa Shahbihi wa Sallim.
Sesak nafasku terus mengiringi hariku kini. Entah apa diagnosanya, aku merasa tak ada posisi yang tepat untukku sekarang. Berdiri terasa sesak, berbaring sesak, duduk pun begitu.
Setiap hembusan nafasku, aku berusaha sekuat mungkin melupakan sesak itu dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Dan bodohnya, Ventolin aku tinggal begitu saja di Malang. Padahal selama di sana, benda itu senantiasa ada di jangkauanku meski tak ada gejala apa-apa.
Menulis dengan tangan yang masih diinfus sangatlah berat, tapi bagaimanapun kondisinya, aku harus tetap menulis.
Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Mungkin aku perlu beristirahat sejenak menjauhi segala maksiat dan fananya dunia. Tuhan memperingatkanku dengan memberinya rasa sakit ini. Aku tak mau mengeluh dan harus tetap bersyukur. Alhamdulillah, Engkau masih mau memperingatkanku.
Terlalu banyak dosaku di dunia ini. Namun, kasih sayangMu tentunya lebih melimpah terhadapku. Aku yakin, Engkau mau menghapus dan membuang jauh-jauh dosaku kan?
Aku tak berpikir sampai sejauh mana nantinya, tetapi aku selalu yakin Tuhan amat sayang kepadaku. Aku tak pernah meragukan itu, meskipun aku sendiri lalai dalam merespon kasih sayangNya.
Tuhan, aku hanya malu. Apa aku terlalu lemah? Tubuhku masih mampu menendang bola dengan tepat. Tapi kini aku terbaring di atas paramount bed.
Beruntungnya aku memiliki keluarga yang kuat. Abi, mama, bg faza. Meskipun aku selalu menahan diri untuk mengeluh, tapi mereka selalu paham akan keadaanku.
Bukannya aku lebay, i want to write everything about my life until Allah take me back.
Bismillah, engga ada apa-apa.
Siloam, 28 Juli 2019
Komentar
Posting Komentar