Agustus, 2019.
Kasih, aku tahu engkau bersinar.
Kemegahan membuat rangkaian langit kelam menjadi terang.
Namun engkau perlu tahu, ketika engkau tenggelam, aku selalu menantimu untuk kembali bangkit.
Bukan rangkaian langit lain yang kau tanggapi itu.
Sedangkan aku di sini kau nafikan keadaannya.
Bahkan hingga kau sudah tak berkenan untuk menyinariku lagi.
Uraian dan anggapan tentang kepribadianku yang berantakan terhadap makhluk lain selalu engkau perdebatkan.
Padahal selama ini hanya engkau yang aku tunggu kedatangannya.
Dan pada kenyataannya, engkau telah mengakui bahwa engkau sedang membicarakan dirimu sendiri.
Ingin aku kata-katai dirimu. Tapi kelu lidahku tak rela menyakiti hatimu.
Melihatmu sedih karena hal lain saja aku tak ingin. Apalagi melihat kau sedih karenaku. Meskipun ya memang hal itu mungkin wajar saja aku keluarkan
Dirinya, dia, atau siapapun kau menyebutnya aku tak pernah tahu. Keadaanku di sini hanyalah mempercayai seluruhnya kepadamu. Tak bisa aku kontrol 24/7 hubungan sosialmu. Aku juga tak mau mencampuri itu yang menjadi hakmu.
Tapi sekali lagi, mana ada merpati jantan yang rela betinanya menjadi idaman banyak orang sementara ia tak bisa berbuat apa-apa.
Aku biarkan dirimu sebebas-bebasnya. Semoga engkau tak merasakan apa yang aku rasakan wahai bidadari yang membuatku buta terhadap yang lain.
Komentar
Posting Komentar