Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Meng-hamba kepada Tuhan

Tuhan, ajarkan aku caranya menangis. Setiap nafas berhembus, butiran-butiran dosa juga terendus dengan halus. Ada yang disadari, ada yang tidak disadari, ada juga yang pura-pura tidak disadari. Semua itu berjalan dengan apa adanya, tak ada yang mampu menghindarinya kecuali ia sudah berada di tahap dekat dengan tuhannya. Bagi yang belum, alur itu akan terus menerus berjalan dan berarus. Tuhan maha penerima taubat bagi hamba-Nya. Hamba-Nya saja yang pemalas untuk meminta permohonan taubat kepada tuhannya. Tidak seperti permohonan remedial atau permohonan perbaikan nilai yang akan tetap dikejar kapanpun waktunya. Aku malu, tuhan. Muncul dipikiranku untuk bisa memikirkan itu. Namun, aku masih tak mampu. Bagaimana caranya tuhan? Jangan habiskan air mataku, aku masih butuh itu untuk menjadi tanda maafku. Jika dini hari yang sepi masih tak bisa membuatku menangis, kapan lagi aku bisa menangis? Apa hatiku yang terlalu membatu. Maafkan aku. Tuhan maha tahu, maha pengerti, ma...

Keluar dari zona nyaman.

Keluar dari zona nyaman. Hidup dengan penuh ke-instant-an kadang membuat orang lupa tentang bagaimana cara yang ditempuh untuk sebuah tujuan. Terperangkap dalam huru-hara dunia kadang membuat orang terlalu berharap tentang kejayaan dunia. Fasilitas bertabur, makan tinggal nyendok sayur, kalo ngantuk, iya tinggal tidur. Modernisasi semakin membuat manusia tak bisa berkreasi. Hidup penuh kehampaan. Mata bagai menempel dengan layar gawai dan jari yang selalu menari seirama dengan apa yang diucapkan hati. Sampai kapan mau begitu? Keluar dari zona nyaman memang tak menjamin kita aman. Tapi setidaknya kau bisa merasakan bagaimana hidup tak semudah yang dibayangkan. Mengetik dengan kondisi sepi. Dibelasan ratus kilometer dari kampung halaman. Orang lain jarang melihat perjuangan kau sendiri. Tapi kau yang akan menunjukkan hasilnya kepada orang banyak dengan tanganmu sendiri, bahwa keluar dari zona nyaman, tak semudah apa yang ada dalam angan. Pati, 2017.

Ahok Diciptakan Untuk Menguji Islam di Indonesia

Gambar
Post tulisanku yang sebelumnya, Menjadi Pemimpin Bukanlah Impian, Tetapi Sebuah Pilihan by Fatwazmi Assalamu’alaikum Pagi ini, disaat matahari muncul dengan teriknya,aku sedang  asyik terburu-buru menyiapkan perlengkapan sekolahku. Semalam, aku masih terbangun sampai jam 2 pagi. Waktu tidurku memang sedang sedikit terganggu. Setelah perlengkapanku selesai, aku membuka hpku untuk sekedar melihat kabar dan pemberitahuan terbaru / ter- update pada hari ini. Dizaman seperti ini, memang menjadi hal lucu jika seseorang terlambat mengetahui informasi yang sedang dibicarakan. Bagaimana tidak? Setiap menit, bahkan setiap detik, kabar terbaru muncul dan hinggap dengan cepat. Tak perlu lagi datang ke lokasi kejadian atau menunggu lama. Cukup membuka beranda facebook / twitter kemudian membuka tautan yang mengarahkan ke berita lebih detail dan jelas. Informasi yang bersifat real akan tercampur informasi yang bersifat hoax jika seorang netizen kurang pandai dalam mengolah...

Hidup itu Cinta / Life is love

Hidup itu cinta. Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Akhirnya, setelah sekian lama tulisanku absen di laman pribadiku, kini aku kembali bersemangat untuk berbagi tulisanku kepada penggemar tulisanku, HAHA. Penggemar yang rata-rata enggak punya kerjaan s ampe mau baca tulisan-tulisan yang menginspirasi ini, hehe. Pada kesempatan waktu luangku ini, aku tak mau membahas tentang politik atau apapun yang berbau dengannya. Kini aku ingin membuka sisi filosofisku, sisi filosofis yang setiap orang punya, sebagai bentuk nurani pada diri manusia, beuh, ketinggian ga si bahasanya? Seperti pada judul yang aku tautkan, aku ingin menyinggung tentang kehidupan, kehidupan cinta di dunia manusia. Selama kita hidup, ribuan kali bahkan jutaan kali kita mendengar tentang ‘cinta’ baik dari kecil yang mengatakan bahwa “Aku cinta mama,” atau dikala remaja yang mulai mengungkapkan cinta puitis terhadap pasangannya, “Aku cinta kamu selamanya.” hingga dikala tua yang banyak mengingat t...

Generasi Baper

-Generasi Baper Akhir-akhir ini kata 'baper' menjadi trending topic di berbagai media. Kata itu seakan menjadi booming untuk meluapkan rasa emosi seseorang yang dianggap 'Bawa Perasaan'. Pertama kalinya aku-pun masih tak mengerti apa artinya itu, aku mengira bahwa kata 'baper' itu masih sederajat dengan 'caper'. HAHA, bodohnya aku. Hingga akhirnya telingaku panas dengan kata itu. Bagaimana tidak, seorang bocah samping rumahku sampai ibu-ibu paruh baya mengatakannya dan terdengar oleh telingaku. -"Baper dah lu." -"Jadi orang jangan baper-an ngapa" -"Yaelah, gitu doang baper" Setidaknya tiga kata itu yang menjadi rujukan seseorang yang berkata kepada lawan bicaranya untuk menggambarkan situasi bawa perasaan atau lebih tepatnya terlalu di bawa ke hati. iya bahasa mandarinnya kurang lebih "lebay". Aku masih belum mengerti untuk apa 'slang' itu digunakan. Sampai sekarang banyak orang yang mengaku menjadi...

Nahdlatul 'Ulama, Strategi Bangsa, & Kejayaan Islam di Indonesia.

Assalamu'alaikum Wr Wb. Malam ini aku kembali terdiam. Selesai ngaji dengan abangku, aku kembali ke tempat tidurku. Kali ini aku tak berminat untuk menyeduh kopi, karena aku merasa bahwa aku harus beristirahat dan tidak boleh memaksakan mataku untuk tetap 'hidup'. Namun, ditengah pejaman mataku dengan senandung lagu yang sedikit menyayat aku kembali terbangun. Aku ambil hpku disamping rebahanku, aku buka sosial media yang aku miliki. Satu persatu aku stalk  kabar terbaru hari ini. Setelah melihat sekian foto yang terupload di instagram dan status di facebook, aku merasa belakangan ini telah terjadi sedikit perpecahan, ah, tapi aku tak mau menyebutnya perpecahan, oke, kita anggap, disscommunication . Mengerti? Iya belum lah, aku saja belum memaparkan apa maksudku. Seperti biasa, aku masih tak bernafsu untuk membuat kembali cerita fiksi khayalanku tentang cinta, atau cerita karanganku yang terlalu berangan. Ketikan yang aku berniat untuk menjadikan buku aku saja masih bel...