Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya
Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya
Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal bulan
Desember akan terangkat kembali isu lama yang masih hangat untuk
diperbincangkan. Media televisi, koran harian, hingga media sosial kembali
ramai adanya. Di balik layar, PA 212 siang malam bekerja untuk menyukseskan
pertemuan tahunan itu. Tak peduli apa yang dikatakan oleh para narasumber yang
terus berdebat di layar kaca, mereka terus bahu membahu agar tepat pada tanggal
2 Desember nanti kesan syahdu pada 2 Desember sebelumnya dapat dirasakan
kembali. Persiapan lokasi, logistik, bahkan edaran-edaran terus dibagikan demi
terselenggaranya pertemuan ini dengan baik. Dukungan dari berbagai daerah
Indonesia terdengar ramai. Banyak berita yang menyebutkan mereka berjalan kaki
berpuluh-puluh kilometer, menyewa 1 pesawat, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, para petinggi organisasi
masyarakat Islam lainnya banyak diundang di stasiun televisi. Untuk pertanyaannya,
tak lain tak bukan tentang seberapa pentingnya pertemuan itu kembali
diselenggarakan. Untuk jawabannya bermacam-macam. Ada yang setuju dengan adanya
pertemuan itu dengan syarat tetap kondusif dan tidak menimbulkan kericuhan.
Namun ada juga yang menolaknya secara terang-terangan. Bahkan ada yang menganggap
pertemuan itu sebagai pintu masuknya bumbu fundamentalis, radikalis dan
sebagainya. Di negeri Indonesia, pendapat bagaimanapun boleh saja dilontarkan
asalkan tetap sesuai dengan hukum dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga
bagi pasukan putih-putih (baca: Front Pembela Islam) sebagai organisasi induk
yang menaungi pertemuan ini merasa hal-hal yang dilontarkan itu merupakan
pendapat yang sah-sah saja. Pada faktanya, mereka tidak terlalu memikirkan itu
dan lebih fokus untuk menampik pendapat-pendapat itu dengan pembuktian pada
tanggal 2 Desember nanti.
Bagiku, membahas ini merupakan membuka
lembaran lama akan tulisan yang pernah aku ciptakan sebelumnya. Beberapa tugas
UAS pun menumpuk menunggu untuk dikumpulkan dan dinilai oleh para dosenku yang
mulia. Tapi entah kenapa, rasanya nikmat sekali untuk membahas ini setelah meminum
kopi petang tadi. Tenang, syahdu, tanpa berapi-api merupakan kunci. Tulisanku
ini pun tidak mengarahkan pembaca untuk kemana mereka berarah. Aku menulis,
kalian menilai.
Sebagai warga Jakarta yang menjadi titik
pusat dari 212 ini, tentunya hal ini merupakan pembicaraan utama terutama
setelah majelis taklim-majelis taklim selesai. Yang aku ketahui, memang
kebanyakan dari alumni 212 merupakan jamaah-jamaah pengajian yang seringkali
aku temui. Entah di daerah sekitar kediamanku, atau majelis taklim-majelis
taklim yang cukup besar di pusat Jakarta. Mereka pun tak berpartisipasi begitu saja.
Seusai pengajian, mereka akan berdiskusi dengan para kyai yang memimpin majelis
mereka masing-masing. Bagi majelis taklim di Jakarta merupakan hal biasa untuk
menghidangkan makanan dan meminum kopi bersama setelah pengajian usai. Kemudian
apabila kyai tersebut mengizinkan, mereka baru bersedia untuk jalan. Tak jarang
pula para kyai tersebut yang turun tangan untuk ikut serta bersama jamaahnya.
Menilisik kembali ke masa beberapa tahun
lalu dimana sebab Gerakan 212 tercipta. Pada suatu saat, BTP yang merupakan
gubernur DKI Jakarta pada saat itu melakukan
kunjungan kerja ke daerah Kepulauan Seribu. Dalam statusnya sebagai gubernur
Jakarta pada saat itu, BTP melakukan kesalahan yang menurutku sederhana namun
fatal akibatnya. Tidak, BTP tidak mungkin seberani itu untuk menghina al-Quran.
Alasannya ya dapat dipikirkan dengan mudah. Masa-masa Pilkada hanya beberapa
bulan lagi akan dilaksanakan dan mayoritas pemilih di Jakarta merupakan muslim
yang menjadi pekerjaan rumah bagi BTP untuk bisa merebut hati suara mereka. Merupakan
boomerang bagi BTP andaikata seberani itu untuk menghinakan al-Quran. Dalam
pandanganku, kesalahannya adalah ketika BTP memasuki ranah agama yang bukan ia
kuasainya. Terlebih lagi misalkan ia hanya mendapat tafsiran tentang Surah
al-Maidah ayat 51 dari seseorang tanpa menimbangkan pendapat yang lainnya.
Terlebih lagi agama merupakan sesuatu yang sangat sensitif bagi masyarakat
Indonesia terutama di Jakarta yang saat itu menjadi Ibukotanya. Terlebih lagi
pada saat itu ia sedang melaksanakan kunjungan kerja yang tidak sepatutnya
melontarkan kata-kata mengarah kampanye terselubung itu. Bagaimanapun juga,
kesalahan sederhana itu bertumbuh besar hingga berhasil memasukkan dirinya ke
dalam bui.
Dan pada saat ini, Gerakan 212 yang
merupakan penggerak dari kasus BTP it uterus bertumbuh subur meski banyak
sekali berita miring yang menghantamnya. Tak hanya serangan dari luar yang
menganggap gerakan tersebut merupakan gerakan fundamentalis, radikalis, dan
anti terhadap kebhinekaan, serangan itu juga muncul dari dalam dimana banyak
petinggi yang ingin sekali memanfaatkan jutaan orang di dalamnya untuk kepentingannya
sendiri. Sudah tak terhitung jari untuk menyebutkan para politisi yang merangsek
masuk ke dalamnya. Berbagai macam dan warna bendera partai politik disandingkan
dengan Gerakan 212 tersebut. Tentunya ini bukan merupakan tujuan utama didirikannya
Gerakan 212. Hingga beberapa kali partai politik sudah terang-terangan
menyetujui adanya Gerakan 212 tersebut demi meraup keuntungan di dalamnya.
Habib Rizieq Shihab yang didaulat sebagai
imam besar dari Gerakan 212 tersebut sudah berulang kali menyebutkan bahwa gerakan
tersebut bukan gerakan politis. Meskipun beratus-ratus politisi yang
menyambangi di Arab Saudi sepertinya tidak akan mengubah jawaban HRS tersebut
untuk menyatakan bahwa gerakan 212 bukanlah gerakan politis. Aku pun menyadari
bahwa negeri ini sudah buta politik. Politik sudah membabi buta menjamahi
seluruh elemen kehidupan. Tak hanya lagi bermain aman namun sudah merambah ke bidang
agama yang cukup rawan. Gempuran politik tersebut sudah sangat sulit dihindari
meski hanya demi kepentingan satu pihak.
Teringat diriku tatkala membahas perpolitikan
dalam Tafsir Rawai’ul Bayan pada Jilid 1 halaman 321 yang membahas Surah
Ali Imran ayat 28-29 yang ayatnya serupa dengan Surah al-Maidah ayat 51. Ayat
ini serupa dalam membahas larangan orang-orang mukmin menjadikan orang-orang
kafir sebagai pemimpin dari selain orang-orang mukmin. Namun uniknya, terdapat
satu istisna’ yang mengecualikan larangan itu yakni Tuqah dengan makna at-Taqiyah.
Selain dari alasan yang disebutkan, larangan menjadikan orang-orang kafir
tersebut terus berlaku sepanjang hayat untuk orang-orang mukmin. Bahkan dalam
bab makna ijmalinya dijelaskan alasan bahwa orang-orang kafir tersebut merupakan
musuh Allah SWT yang seharusnya dihindari untuk menjadikannya sebagai pemimpin,
terlebih lagi ketika menjadikannya sebagai pemimpin dengan mengabaikan saudara
seimannya. Untuk pengecualiannya, hal ini dibolehkan hanya ketika keadaan mukmin
terdesak atau darurat dan tiada kuasa untuk memilih pemimpin yang mukmin. Itupun
dengan catatan tetap berusaha sekuat mungkin untuk memilih yang lebih sedikit
mudharatnya.
Pertanyaannya, mengapa hukum syara’
berulangkali melarang pengangkatan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan
meninggalkan atau selain dari orang-orang mukmin. Berulangkali aku bertanya
kepada kyai yang mengajariku tentang bab itu.
“Masa tidak boleh, Ustadz, mengangkat orang-orang
kafir sebagai pemimpin?” Seolah-olah aku kontra demi mendapatkan jawaban yang
sempurna.
Namun berulangkali aku bertanya, beliau
hanya menjawab.
“Pokoknya tidak boleh mengangkat
orang-orang kafir sebagai pemimpin dari selain orang-orang mukmin.”
Jawaban singkat itu masih membuatku bertanya-tanya.
Apa alasannya?
Dan ternyata, 212 memiliki hikmah
tersendiri bagi diriku terlepas dari pro kontra di dalamnya. Aku mengakui bahwa
BTP memiliki integritas dan kemampuan dalam memimpin. Tapi sekali lagi, hal itu
merupakan pelajaran yang amat sangat berharga bagi masyarakat Jakarta.
Pengangkatan orang-orang kafir sebagai pemimpin di lingkungan mukmin tidak
cukup etis dan berlawanan dengan hukum syara’. Hal itu kembali menimbulkan
pertanyaan, Bagaimana jika DKI Jakarta saat ini sedang darurat?
Segudang masalah yang dimiliki DKI Jakarta
sepertinya belum bisa menunjukkan dalil yang kuat bahwa DKI Jakarta sedang
darurat. APBD tersedia, SDM nya cukup mumpuni, juga dengan nama besarnya yang menarik
para investor untuk membangun Jakarta sepertinya masih cukup untuk membuat pemerintahan
Jakarta lebih baik dari sebelumnya.
Pertanyaan yang penting untuk diajukan
adalah, Bagaimana bisa terjadi pengangkatan orang-orang kafir tersebut di
daerah mayoritas mukmin? Apa Indonesia kekurangan mukmin cendikiawan yang ahli
dalam bidang pemerintahan? Dimana para intelektual mukmin yang melek hukum dan
mengerti tata kota? Sedang apa para generasi emas sekarang dalam menuju
pemerintahan masa depan? Akankah DKI Jakarta kembali kecolongan dalam hal demikian
itu hingga cukup membuat gaduh negeri ini. Aku miris sekali disaat kota
kelahiranku disebut sebagai biang dari terpecahnya persatuan di negeri ini. Padahal,
ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Sekolah, perguruan tinggi, ormas
Islam, ahli bisnis, sosialis dan lain sebagainya yang berbasis Islam seharusnya
bisa menciptakan kader-kader unggul agar kejadian seperti ini tidak terjadi
lagi.
Tak bisa kita menyalahkan BTP tatkala ia
dinaikkan menjadi gubernur setelah Jokowi naik menjadi presiden. Hal itu sudah
sah sesuai hukum dan merupakan hal bodoh apabila kita teriak-teriak menurunkannya
tanpa sesuai dengan hukum. Tak akan mampu kita melawan ketetapan yang telah
kita sepakati sendiri.
Pada akhirnya, 212 memberikan makna yang
sesungguhnya untuk menyadarkan bagaimana kegaduhan yang akan ditimbulkan apabila
orang-orang kafir naik menjadi pemimpin di lingkungan orang-orang mukmin. Tak
perlu menyalahkan siapa-siapa atas kejadian ini semua. Segala macam nyawa sudah
melayang, luka masih terasa perih, caci maki, fitnah, dan sebagainya sudah tak perlu
lagi disebarkan. Sungguh indah apabila berbagai warna bergabung menjadi satu
dan saling mendoakan satu sama lain. Menciptakan Indonesia dengan keberagaman
yang agamis merupakan cita-cita bersama. Pihak-pihak yang ingin menghancurkan Indonesia
dan menjadikan Indonesia sebagai negara khayalannya sendiri hanyalah beberapa
golongan kecil yang akan mampu diredam tatkala organisasi-organisasi Islam di
Indonesia bisa bergabung dalam menciptakan toleransi. Ciptakan kader-kader
handal yang mampu melayani semua pihak untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa
depan. Hanya itu cara sebaik-baiknya dalam menjalankan pemerintahan dalam
baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Mari maknai 212 ini dengan segelas kopi
yang mampu menenangkan hati. Perbedaan hanyalah warna yang senantiasa
memperindah satu sama lain. NKRI HARGA MATI, KAMU KAPAN MAMPIR KE HATI?



Ajari aku dong kak
BalasHapus