Malang.
Tak pernah terpikirkan olehku untuk menerobos jalur pendidikanku ke kota yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat tidurku.
Tak pernah ada sejarahnya keluargaku, sejauh yang aku tahu, berkenan untuk merantau di sana.
UIN Jakarta adalah pilihan mayoritas mereka untuk hinggap dalam 8 semester mereka demi mencapai gelar sarjana.
Berlanjut ke abangku yang ternyata tidak semulus dengan yang dikira.
Imbasnya? Ada ketakutan sendiri yang meracuni pemikiranku bahkan hingga tak ada satupun pilihan yang aku arahkan untuk ke sana.
Beberapa orang menyayangkan. Aku katakan, demi Tuhan aku bukan tinggi hati menolak UIN Jakarta dalam proses pendidikanku.
Dan kini, aku lebih memilih untuk nekad menjadi gelandangan di negeri lain, daripada aku hidup bergelimang kemewahan di kampungku sendiri.

Malang.
Kamu telah menolak kehadiranku 3 kali. Kini aku menghampiri dan merayumu untuk bisa menerima kehadiranku pada permintaan ke 4 kalinya.
Aku berdo'a, berikhtiar, dan bertawakkal atas apa yang Tuhan kehendaki.
Aku beriman atas Qada dan Qadar. Entah itu baik ataupun buruk.
Tuhan, andai engkau berkenan. Izinkanlah aku untuk menuntut ilmu di salah satu sisi bumi-Mu ini.
Biarkanlah aku mengais serpihan-serpihan dari jutaan ilmu-Mu.
Berikanlah kado terbaik untuk hamba-Mu yang sedang tumbuh dan berproses ini.
Andai engkau menerimanya, teguhkan aku dalam menjalankan amanah-Mu.
Namun, jika pada ke 4 kali ini engkau masih tetap menolaknya, aku akan tetap menerimanya. Tapi aku mohon, jangan pernah tutup hatiku dalam menuntut ilmu-Mu.

Malang.
Bagi perantau, mungkin merantau adalah hal yang biasa mereka lakukan. Tapi bagi Betawinese, rumah dan keluarganya adalah segalanya.
 'Kalo bukan kampung kite yang jage, siape lagi?'
Mana ada penjaga yang keluar dari kampung itu sendiri.
Berat rasanya, meninggalkan cerita, cinta, dan canda tawa khas banyolan betawi yang mungkin akan sulit aku ungkap dengan suku-suku negeri lain. Tak bisa rasanya jika aku terlalu nyeblak sebagaimana aku senantiasa melakukan itu dengan sanak saudaraku.
Untukmu, Cinta.
Aku titipkan dirimu hanya kepada sang maha cinta. Aku serahkan dirimu kepada-Nya. Aku biarkan dirimu tumbuh meski dengan jarak yang sangat jauh dariku.
Sekarang aku harus bisa mengusap air mataku sendiri, Sayang. Bahkan tak ada yang menamparku lagi untuk menyadarkan dan membangkitkanku dikala aku diambang keterpurukan.
Aku tak bisa berjanji banyak terhadapmu, tapi aku yakin bisa menunaikan bukti yang banyak untukmu.
Jangan pernah mengkhawatirkanku. Seperti yang aku katakan, kemanapun aku melangkah, kemanapun aku terbang, kemanapun aku jatuh, rumahku tetap di Jakarta. Karena di Jakarta, surga cintaku berlabuh di sana. 🖤

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya

Minoritas di Kampung Mayoritas

Kasih tanpa kekangan.