Keyless | Tak Perlu Kunci Kehidupan Andai Pintu Hatimu Tak Tertutup
Aku mengetuk pintu rumah secara
perlahan. Tok tok tok. Sekian lama aku menunggu tetapi masih tak ada jawaban.
Pintu tersebut terkunci rapat. Ingin rasanya aku mendobrak dan segera masuk.
Namun hal itu akan sangat brutal jika aku benar-benar melakukannya. Akhirnya
aku memilih untuk menunggu di saung belakang rumahku. Aku bersandar. Tiba-tiba
aku mendapatkan suatu pemikiran betapa mudahnya hidup ketika tidak ada sesuatu
yang tertutup. Seperti pintu tadi. Andai pintu tadi itu tidak tertutup, mungkin
sekarang aku sudah masuk ke dalam rumah dan bisa beristirahat dengan tenang.
Tapi karena kondisinya berbalik 180 derajat, maka aku harus menunggunya di
luar.
Kehidupan modern yang serba cepat,
mudah, dan sangat terbarukan sudah mulai memasuki fase keyless dalam teknologinya.
Baru-baru ini, salah satu merk sepeda motor dari negeri matahari terbit telah
mengiklankan teknologi terbarukan mereka yang sangat canggih, yakni Keyless. Tak
perlu banyak-banyak kunci yang besarnya segede gaban atau gerigi yang
bermacam-macam. Hanya dengan sensor sederhana, maka sepeda motor tersebut dapat
digunakan. Cepat, mudah, dan sangat terbarukan.
Tetapi, uraian di atas hanyalah
pengalihanku terhadap sesuatu yang ingin aku bahas ini. Aku memang bukanlah
ilmuwan atau cendekiawan yang sangat akademis. Bukan pula ahli dalam masalah
kunci perkuncian. Aku hanya sekadar menganalogikan sesuatu terhadap apa yang
sedang aku pikirkan. Setelah analogi tersebut masuk, aku mentransformasikannya
ke dalam realita kehidupan. Semoga berhasil.
Dalam menjalani hidup, berbagai
motivator ulung banyak memberikan kunci-kunci kehidupannya kepada banyak orang.
Begitu juga para master bisnis yang sudah merajai perusahaan-perusahaan besar
seringkali membagikan kunci-kunci mereka kepada para pemulai bisnis. Hal ini memang
bukan sesuatu yang salah. Ini semua bukan tentang hal salah atau benar.
Ketika para atasan itu memberikan
kunci-kuncinya, berarti terdapat sesuatu yang tertutup rapat. Seakan-akan
atasan tersebut sudah berhasil membukanya dan ingin memberikannya secara
perlahan kepada bawahannya. Kunci-kunci itu tak bersifat universal. Tetapi
bersifat, “Siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya akan berhasil.” Sehingga
semua bawahannya berlomba-lomba menjadi orang yang paling bersungguh-sungguh.
Setiap kunci yang diberikan oleh para atasan digunakan sepenuhnya dan membuka
pintu itu sedikit demi sedikit. Memang ada yang berhasil. Tapi mana ada para
atasan yang membiarkan semua pintunya itu terbuka lebar.
Menjalani kehidupan di dunia ini
banyak sekali bertebaran kunci-kunci yang diberikan oleh banyak orang. Kunci
tersebut juga bermacam-macam jenisnya. Ada yang berupa kunci tentang bisnis,
sosial, bahkan kunci tentang keagamaan. Setiap orang yang bernapas harus
melakukan step by step demi keberhasilan kehidupannya. Memangnya apa sih
yang membuat hidup ini harus memuat berbagai kunci untuk berhasil seperti itu?
Apa sih yang terkunci dari semuanya? Lalu, apa gunanya andai sesuatu itu telah
terbuka? Halah, hidup mah dijalani saja. Tak perlu banyak kunci-kunci segala.
Berbagai pandangan orang tentang kunci kehidupan ini memang sangatlah beragam.
Ada yang bersungguh-sungguh mendakinya demi sebuah kunci itu. Ada juga yang
tetap bersila meski kuncinya sudah diberikan di depan mata.
Pusat organ tubuh manusia dalam
menjalani kehidupannya terfokus pada organ kecil yang sangat penting. Namanya
adalah hati. Hati bertugas sebagai pusat kontrol terhadap apa yang ingin
dilakukan oleh setiap manusia. Ketika otak sudah bertugas mengirimkan informasi
kebencian terhadap seseorang. Tangan meresponnya dan bersiap menghakimi orang
itu dengan sendirinya. Perintah itu sangatlah cepat dan tak ada yang
mengetahuinya sebelum diri kita sendiri. Ingin rasanya segera memukul,
menodongkan senjata tajam, bahkan membunuhnya sesuai dengan perintah otak yang
sudah dikuasai oleh emosi. Orang lain disekitar kita juga tak akan mampu
mencegahnya jika sudah terbawa emosi seperti itu. Namun, mari kita jeda
sebentar. Ketika otak mengirimkan informasi dan tangan meresponnya, di sana
masih terdapat hati yang juga sedang bekerja keras. Hati manusia yang pada
dasarnya bersifat lembut akan meredam emosi secara perlahan. Emosi itu semakin
mengecil dan terus mengecil hingga akhirnya tangan tak mampu bergerak dan
seluruh tubuh terasa lemas. Tubuh sekekar apapun akan terasa lemah jika hati
sudah menunaikan tugasnya. Betapa banyak orang yang postur tubuhnya besar,
tegap, dan terlihat kasar tetapi kita malah melihatnya sedang menolong
seorang kakek untuk menyeberang jalan. Atau sekedar memberi makan kepada
kucing-kucing kecil nan imut yang perawakannya sangatlah berbeda.
Kemudian apa hubungannya antara
kunci kehidupan dengan hati? Saudara? Saudara macam apa?
Ketika aku mencari jawaban terbaik
untuk apa selama ini kunci-kunci kehidupan digemakan dalam setiap waktu dan
kesempatan. Seakan-akan semua orang membutuhkannya. Aku pun menemukan
jawabannya. Selama kita hidup, tak semua pintu di hati kita terbuka terhadap
dunia ini. Meskipun kita senantiasa berbuat kebajikan di dunia ini, ternyata
masih terdapat pintu-pintu yang terkunci dengan rapat. Tak semuanya terbuka
dengan lebar. Orang lain yang bergaul bahkan tidur dengan kita aku rasa juga
tidak mengetahui pintu-pintu hati orang lain yang masih tertutup. Sehingga,
yang mengetahui bagaimana keadaaan pintu kita adalah diri kita sendiri. Tapi tak
bisa dipastikan juga entah diri kita sendiri pun sadar ataupun tidak.
Keyless adalah suatu keadaan dimana
kemudahan dalam hal kunci-perkuncian dapat kita ciptakan. Seperti yang aku
katakan. Kita tak perlu bahkan tak membutuhkan sama sekali kunci-kunci
kehidupan seperti itu andai pintu hati kita tak tertutup. Keadaan pintu terbuka
memanglah tidak aman. Tetapi jika pintu itu hanya berada dalam diri kita
sendiri dan milik kita sendiri, maka orang lain tidak akan mampu merusak dan
mengusiknya. Hanya kita dan Tuhan yang mampu memasukinya. Keadaan keyless
memudahkan kita untuk melihat berbagai hal dalam diri kita sendiri dan
mengekspresikannya ke dunia luar. Keyless hanya dimiliki oleh orang-orang
spesial yang mampu mengendalikan pintu hatinya sendiri. Kita pun mampu, tetapi
masih rawan. Di saat kita sudah berhasil membuka pintu hati ini secara lebar,
kita masih tak mampu mengendalikannya sendiri. Bahkan sedikit demi sedikit kita
masih butuh kunci kehidupan dari orang lain. Sekali lagi hal itu juga tidaklah
salah. Menggunakan kunci-kunci kehidupan untuk membuka pintu hati kita secara
perlahan juga merupakan plan yang baik ketika kita tak mampu
mengendalikannya sendiri. Menjadikan hatimu keyless atau tidak merupakan
pilihanmu sendiri. Jika kamu sudah berbaiat untuk menjadikannya keyless, kamu
sudah harus siap menghadapinya sendiri tanpa pengaruh orang lain dalam hidupmu.
Tetapi jika kamu masih belum mampu, kamu harus menggunakan kunci-kunci
kehidupan untuk membukanya secara perlahan. 2 pilihan ini harus berdampak
positif bagi dirimu sendiri. Proses demi proses tentu akan berjalan. Pastikan
bahwa itu adalah hatimu sendiri dan kamu yang mengaturnya secara mandiri.
Jangan sampai hati itu masih terisi oleh pikiran-pikiran orang lain yang tidak
kamu setujui.
Aku mengawali buku ini secara
sederhana sesuai dengan tujuan yang aku inginkan. Sesuatu yang hadir diawal
tentulah istimewa dan menjadi petunjuk pertama menuju garis finis diakhirnya.
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW ketika diturunkan wahyu pertama oleh Allah SWT
melalui Malaikat Jibril yang berbunyi IQRA atau perintah untuk membaca.
Perintah yang sangat sederhana dan tidak muluk-muluk. Bukan disuruh mendirikan
rumah ibadah, berdagang kesana kemari, atau langsung dituntut untuk sholat 5
waktu. Semuanya terdapat proses yang harus dijalankan. Membaca merupakan suatu
perintah awal yang sangat istimewa. Namun sekarang malah terbelakangi dan
dianggap terlalu kuno. Maka dari itu, aku memulai Keyless ini dengan harapan
agar kalian membacanya secara tuntas dan niatkan sebagai proses menuju hidup
lebih baik. Asyik.
Semua
yang aku tuliskan ini murni merupakan pandanganku sendiri. Kalian sangat boleh
untuk tidak berkenan, tidak setuju, bahkan aku sangat menyarankan untuk
mengkritik serta berdiskusi denganku tentang buku ini dengan sopan santun. Aku
sangat menghargai dan menghormatinya. Tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah dari
ilmuwan yang sudah mahir, bukanlah tulisan dosen yang sedang menulis materinya,
juga bukanlah tulisan shahih kyai untuk para santrinya. Yaaa, meskipun aku
memang bermimpi seperti itu semua. Maka dari itu, tulisan ini tidak menjaminmu
masuk surga tanpa hisab. Dengan umur 17 tahun dan pendidikan formal 12 tahun
(itupun masih suka bolos) yang aku miliki, setidaknya, aku mampu menghadirkan
bacaan tentang kehidupan dalam pandangan bocah 17 tahun.
Komentar
Posting Komentar