Keyless | Bag. 1 - Ikhlas
Bag. 1 – Ikhlas
Ikhlas aku berikan jabatan pertama
dalam bagian ini. Aku mengerti, sehebat apapun kebajikan yang telah dilakukan tetapi
dilakukannya tanpa keikhlasan maka tak akan berarti sepenuhnya. Kebajikan itu
hanya bersifat yang dilihat oleh mata dan tak bersifat kasat mata. Contohnya ketika
seseorang membuat kebajikan seperti memberikan sumbangan permadani ke masjid
hanya dengan harapan agar jamaah di masjid itu berkenan memilihnya dalam
pemilihan calon legislatif tanpa ada unsur keikhlasan sama sekali, maka
kebajikan itu hanya bisa dilihat dengan mata kepala saja. Memang kebajikannya
itu bisa dirasakan oleh banyak orang. Tetapi bagi orang yang menyumbangkannya
tanpa ikhlas, manfaat kebajikan dalam hatinya itu tidak akan ada. Hatinya akan
terus menerus gelisah. Tak ada ketenangan karena memikirkan manfaat lain dari
kebajikannya itu. Hal itu terus meliputinya tiap saat. Setiap kali ia sholat
berjamaah di masjid itu, ia tak mau rugi jika tidak kedapatan bersujud di
permadani yang telah diberikannya itu.
Kemudian bagaimana? Andai pada hasil
pemilihan calon legislatif itu ia menang dan para jamaah mendukungnya
sepenuhnya atas dasar sumbangan permadaninya, maka ia akan berterimakasih dan
menganggap para jamaah itu mudah diakali. Sehingga, jika ada suatu kebutuhan
lain yang mengikutsertakan jamaah, ia akan menambah kepeduliannya bahkan
menambah kuantitas dari sumbangannya itu. Tetapi, andai setelahnya ia gagal,
maka semua sumbangannya hanya bernilai sia-sia baginya dan kemungkinan
terburuknya ia akan menarik seluruh sumbangannya demi menutupi kerugian yang ia
hadapi itu.
Ikhlas akan memberikan manfaat
sebesar-besarnya kepada diri sendiri dan orang lain. Tetapi jika berlaku
pamrih, maka akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Ia akan terus menerus
gelisah memikirkan sumbangannya. Jamaah juga akan berpikir berulang kali dalam
memanfaatkan sumbangannya itu. Jamaah juga tak mau dianggap rendah dan dibeli
suaranya hanya atas dasar sumbangan permadani. Apalagi jamaah yang idealis,
beuh, ia lebih rela bersujud di atas sajadahnya yang telah usang dibanding keningnya
tergores tanda sumbangan tanpa keikhlasan.
Ikhlas itu luas. Tak melulu tentang
sumbangan ke masjid dan sebagainya. Ikhlas terbaik adalah ketika ia mampu
melakukan sesuatunya tanpa dibuat-buat yang akan merugikan dirinya. Contohnya
ketika kamu belanja dengan waktu sebentar di pasar. Di saat ingin mengeluarkan
motor dari parkiran, kamu bersusah payah memindahkan motor yang ada di sebelah
kiri dan kanan. Peluh keringat, bau tak sedap, uang belanja yang pas-pasan
menambah emosimu. Tak lama kemudian, ketika kamu telah berhasil mengeluarkannya
dan tinggal menarik gas untuk pergi, datanglah tukang parkir dengan rompi dan
peluit ala kadarnya mengumandangkan aba-abanya.
“Yo, terus.. terus..”
Di situlah hatimu bekerja..
Merogoh kantong baju secara cepat.
Kemudian berpindah ke kantong celana. Lalu ke dashboard motor di bawah speedometer.
Berharap ada beberapa koin atau recehan yang bisa diberikan. Setelah ketemu, kamu
akan memberikannya dengan wajah yang sangat cetus. Tukang parkir pun langsung
menerimanya dan pergi. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya kamu ngedumel, mencaci,
bahkan sumpah serapah terhadap kejadian tadi. Uang 2.000 rupiah yang tak
seberapa, malah menjadi petaka buamu. Uang 2.000 rupiah tadi
menghasilkan dosa berkali-kali lipat karena tindakan buruk kamu setelahnya yang
diawali oleh ketidakikhlasan.
Padahal, andai kamu berkata sopan
dan beralasan kepada tukang parkir itu dengan baik-baik dan penuh keikhlasan,
mungkin hasilnya akan berbeda.
Bisa saja kamu katakan,
“Saya cuma belanja ini saja dan
sebentar, Pak. Lain kali ya.”
Atau
“Saya engga bawa uang lebih, Pak.
Lain kali ya.”
Ditambah senyum manis dan raut wajah
kemiskinanmu tentu akan lebih dimengerti dan tidak berdampak buruk setelahnya.
Antara kamu dan tukang parkir pun sama-sama mendapatkan nilai keikhlasan.
Berbicara yang baik seperti itu pastinya akan dipahami dan diterima. Itu
mungkin lebih baik dibanding kamu memberikannya dengan jumlah yang tak seberapa
tetapi berdampak negatif dari sepanjang perjalanan pulang entah hingga kapan
akhirnya.
Tetapi, alangkah baiknya andai cara
ketiga ini dijadikan sebagai pilihan. Ketika kamu bersusah payah mengeluarkan
motor dan tukang parkir hanya meminta uangnya saja, tetaplah kamu berikan itu
sebagai haknya. Anggap saja usahamu tadi itu sebagai usaha membantu
pekerjaannya sedari pagi buta. Mungkin tukang parkir itu sedang kelelahan atau
bahkan baru selesai sholat. Kamu berikannya secara ikhlas dan biarlah Allah SWT
yang akan membalasnya. Entah pada perjalanan pulang kamu akan diberi keselamatan
atau bisa saja nanti ketika sampai di rumah tiba-tiba kamu diberikan uang arisan yang dapat membahagiakanmu, atau yaaa setidaknya kamu sudah mendapatkan pahala dari keikhlasanmu itu. Percayalah
bahwa keikhlasan tak akan membawa kepada kerugian.
Stay Positive!
Stay Positive!

Komentar
Posting Komentar