Generasi Baper

-Generasi Baper

Akhir-akhir ini kata 'baper' menjadi trending topic di berbagai media. Kata itu seakan menjadi booming untuk meluapkan rasa emosi seseorang yang dianggap 'Bawa Perasaan'.

Pertama kalinya aku-pun masih tak mengerti apa artinya itu, aku mengira bahwa kata 'baper' itu masih sederajat dengan 'caper'. HAHA, bodohnya aku.

Hingga akhirnya telingaku panas dengan kata itu. Bagaimana tidak, seorang bocah samping rumahku sampai ibu-ibu paruh baya mengatakannya dan terdengar oleh telingaku.

-"Baper dah lu."
-"Jadi orang jangan baper-an ngapa"
-"Yaelah, gitu doang baper"

Setidaknya tiga kata itu yang menjadi rujukan seseorang yang berkata kepada lawan bicaranya untuk menggambarkan situasi bawa perasaan atau lebih tepatnya terlalu di bawa ke hati. iya bahasa mandarinnya kurang lebih "lebay".

Aku masih belum mengerti untuk apa 'slang' itu digunakan. Sampai sekarang banyak orang yang mengaku menjadi 'korban baper". Aku tambah tidak mengerti, maksudnya apa? ha?.

Korban baper biasanya menunjukkan bahwa dirinya terlalu berharap kepada seseorang, namun ia sebaliknya. Baper kembali dikaitkan dengan masalah cinta-percintaan. Alah, jari ini semakin malas untuk membahasnya.

"Untuk apa kau masih terlalu berharap ke dia kalau kau sudah tahu berharap itu sakit? so why?"

And then, aku tak mau membahasnya dengan hal itu. Kini, aku ingin merubah mainset kata itu dengan sesuatu yang menarik pada saat ini, yang seengganya lebih berfaedah dibanding membahas dilan atau milea yang engga kelar-kelar.

Sebagai anak muda, tentu dengan semangat yang masih membara harusnya menjadi tumpuan bangsa. Sadar tak sadar bangsa ini telah dijajah, Asing dan Aseng sudah saling bertindih untuk dapat mengibarkan bendera mereka disini, iya disini.

Kita harus sadar bahwa kita tidak bisa seperti ini terus. Mengapa kita tidak baper saat perusahaan-perusaahan asing menyerbu negeri ini dengan membabi buta? Mengapa kita tidak baper saat ribuan tenaga kerja aseng dengan mudah berduyun-duyun datang? Apalagi disaat pribumi menjadi budak di negeri sendiri, mau sampai kapan?

Menurutku, kata 'baper' itu lebih asik kalo ditempatkan pd kondisi seperti itu. Bukan hanya masalah cinta-cintaan.

Generasi baper harus bisa menjadi tumpuan yang mampu mengusir mereka itu. Tak perlu lah angkat senjata. Baper dulu saja kalau ekonomi kita sedang diacak-acak, kekuasaan negeri kita sedang diperebutkan, kekayaan negeri kita sedang dihabiskan. Cinta harus baper, oke. Aku cinta negeriku, aku harus baper pada setiap sesuatu yang menghancurkan cintaku.

#AyoBaper

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya

Minoritas di Kampung Mayoritas

Kasih tanpa kekangan.