Nahdlatul 'Ulama, Strategi Bangsa, & Kejayaan Islam di Indonesia.

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Malam ini aku kembali terdiam. Selesai ngaji dengan abangku, aku kembali ke tempat tidurku. Kali ini aku tak berminat untuk menyeduh kopi, karena aku merasa bahwa aku harus beristirahat dan tidak boleh memaksakan mataku untuk tetap 'hidup'. Namun, ditengah pejaman mataku dengan senandung lagu yang sedikit menyayat aku kembali terbangun. Aku ambil hpku disamping rebahanku, aku buka sosial media yang aku miliki. Satu persatu aku stalk kabar terbaru hari ini. Setelah melihat sekian foto yang terupload di instagram dan status di facebook, aku merasa belakangan ini telah terjadi sedikit perpecahan, ah, tapi aku tak mau menyebutnya perpecahan, oke, kita anggap, disscommunication. Mengerti? Iya belum lah, aku saja belum memaparkan apa maksudku.

Seperti biasa, aku masih tak bernafsu untuk membuat kembali cerita fiksi khayalanku tentang cinta, atau cerita karanganku yang terlalu berangan. Ketikan yang aku berniat untuk menjadikan buku aku saja masih belum mau aku lanjutkan. Aku mulai merasa kehilangan ide untuk berbicara banyak tentang hal-hal seperti itu. Aku merasa aku harus bisa melakukan sesuatu yang tidak hanya dinikmati untuk dibaca, namun juga bisa membuat pembaca pemahamanku bisa mengerti dengan jelas. Jujur saja, pemahamanku ini terlalu bebas untuk hal yang aku inginkan, tapi tetap saja aku masih bisa mempertangungjawabkan apa yang aku ungkapkan, karena ini, pemahamanku, pemahaman orang lain yang aku pahami, dan pemahaman aku sendiri yang masih aku pahami. Dan juga, sudah seringkali ayahku mencegah hal-hal seperti itu. Acap kali aku diperingati untuk tidak terlalu menuliskan sesuatu yang malah membuat perpecahan dan sesuatu yang terlalu luas jangkauannya untuk bocah ingusan sepertiku. Aku mengerti, namanya orangtua pasti menjaga anak-anaknya dengan penuh hati agar anaknya tersebut tidak salah jalan. Tetapi, aku juga tidak bisa menyalahkan jiwa mudaku yang masih berkoar. Dukungan demi dukungan dari sahabatku juga menambah bara api yang ada dihatiku untuk menghasilkan sebuah pemahaman yang dapat membuka kebenaran yang aku rasa perlu untuk diungkapkan.

Oke, maafkan aku, aku terlalu banyak bercerita seperti itu, bukan juga aku merasa bahwa pemahamanku yang selalu benar, malah darisitulah aku berusaha untuk mengajak orang berdiskusi secara baik, dan dapat diperoleh kesepakatan bersama tanpa adanya hoax dan fakta yang dioplos opini yang bisa mengubah pola pikir masyarakat,

Bismillahirrahmanirrahim,
Aku lanjut cerita pembukaku diatas, oh, maaf, ini bukan cerita, ini hanya sebuah tulisan yang tak bermakna bagi orang yang belum bisa memahaminya, bahkan aku merasa tulisan itu cukup lucu untuk ditertawakan oleh anak muda yang sedang berkumpul kebo dengan keduniaan muda yang menghiasinya.

Aku merasa kita butuh me review sedikit tentang kejadian yang telah menjadi trending topic di tahun 2016. Dimana terjadi sebuah peristiwa dimana terjadinya 2 kubu yang saling berusaha merasa benar, antara pembela Basuki Tjahaya Purnama dengan pembela agama islam yang biasa disebut pembela quran. Karena memang akar masalahnya dari kitab suci yang sangat dihormati dalam agama islam tersebut.

Kali ini, aku berusaha mereset sudut pandangku dari masyarakat jakarta menjadi generasi nahdlatul ulama'. Tak bisa dijauhkan dari kehidupanku memang, dimana keluargaku, lingkunganku, dan kemasyarakatanku sudah tercampur dengan pemahaman nahdlatu ulama'. Aku bersyukur, Kenapa? Sejak kecil aku sudah diajari berbagai macam kegiatan agama yang menjadi ciri khas NU, dari mulai tahlilan, haulan, sampai maulidan yang selalu dicerca bid'ah. Baik, sekarang sudah bukan saatnya lagi aku mendebat-kan hal-hal yang sudah semestinya seperti itu. Pesanku untuk orang-orang yang masih seperti itu untuk datang ke kampungku di kelapa dua, Jakarta Barat. Kita rasakan bagaimana keindahan kebersamaan yang terjalin dalam semuanya.

dan untuk sekarang ini, aku merasa miris bagaimana pemberitaan miring media yang berusaha memojokkan salah satu organisasi islam tertua itu. Aku tak tahu adu domba macam apa yang sudah dijalankan, atau mungkin kerja sama apa yang telah dihasilkan, aku tak mau menuduh lantah lah.

Kita flashback sebentar, dimana ketika periode presiden yang berasal dari kalangan santri NU, kiai Abdurrahman Wahid, ada yang tidak kenal? aku rasa dari golongan rakyat jelata sampai raja penguasa mengenalnya. Presiden 'hoki' dengan guyonannya "Gitu aja kok repot". Salah satu tokoh kebanggaan NU yang sangat jenius. Pembawaan santai, dengan sedikit gelak tawa membuatnya menjadi presiden yang tak seperti presiden. Sederhana dan mencakup semua umat manusia.

Aku memujanya? tidak juga. Banyak juga orang yang terlalu menganggap aku terlalu mengagumi tokoh pluralisme tersebut. Padahal jujur saja, masih ada pemahamanku yang berlawanan dengannya, mungkin aku terlalu durhaka untuk membandingkan pemahaman cetek ku dengan luasnya pemahaman beliau. Maafkan, aku hanya anak muda yang mencari pemahaman.

20 bulan beliau menjabat sebagai presiden Indonesia sebelum diganti oleh rezim Megawati. Tetapi ribuan pro-kontra menghakiminya. Saat disahkannya etnis Tionghoa dan kepercayaan Konghocu. tapi, 20 bulan juga beliau berusaha menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia ini. Hingga saat ini masih banyak 'GusDurIan" yang mengenangnya.

Setelah beliau wafat, tokoh NU sudah banyak ditunggu lagi kehadirannya dalam negara Indonesia, namun aku rasa belum ada yang seperti Gus Dur yang sangat khas dalam menjadi tokoh NU didalam kehidupan negara Indonesia.

Oke, lanjut. Pemberitaan miring tentang NU yang bisa membuat disscommunication tersebut sangat berbahaya, bagaimana tidak, berapa juta warga NU di Indonesia yang bisa menjadi korban adudomba kelompok yang tidak mau bertanggung jawab.

Saat juga ketua PBNU Kiai Said Aqil Siradj yang terlihat pro-ahok banyak dibully oleh netizen yang berusaha mengungkapkan pernyataan kebenaran pemahamannya kepada publik. Disini aku kembali berfikir, mengapa FPI begitu gencar ingin memenjarakan ahok sementara ketua PBNU malah terlihat mendekati ahok (bukan berarti membelanya)

Disini aku berusaha hitung-hitungan kasar, dengan segala macam yang akan terjadi.
Jika FPI terus gencar dengan perjuangannya, aksi damai besar-besaran, tetapi jika ahok masih dilindungi pemerintah, ahok akan merasa lebih berkuasa, bahkan bisa saja, bisa saja ini loh, ahok ingin menjatuhkan lagi siapapun yang ingin menjatuhkan dirinya, umat islam bisa saja akan menjadi bahan kekuasaannya untuk masa depan. Namun disini NU dengan cara pendekatan halusnya terus berusaha untuk menyadarkan ahok bahwa tindakannya tersebut dapat membuat perpecahan. Disinilah strategi ulama-ulama jenius untuk berusaha agar islam tetap dapat tempat disisi pemerintah. Jika semua umat islam bertindak dilapangan seperti itu, siapa yang bisa masuk ke dalam istana? dalam hal ini islam tetap bersatu, namun dengan cara strategi yang berbeda.

Kita tahu sendiri bahwa kedekatan ahok dengan NU memang tergambarkan sejak dulu. Bagaiman semestinya Rahmatan lil 'alamin. Tetapi bukan berarti juga aku menolak paham dari FPI dan yang lainnya. Asal tau saja, aku dan jasadku ikut membela islam pada jilid 2&3, tapi setelah aku pahami, memang benar, strategi agar islam tetap jaya harus bisa dilakukan, Pemerintah yang keras tidak bisa seluruhnya dilawan dengan keras pula, cobalah dengan pendeketan terlebih dahulu. dan ingat juga, aku sangat menentang dalam memilih pemimpin dari non-muslim. and then, sekarang sudah terjadi, tinggal kitanya saja nanti bagaimana di masa depan.

Finally, aku ingin mengakhiri ini dengan semangat perjuangan dari berbagai umat islam di dunia. Dalam kacamat besar tak ada lagi NU, FPI, MUHAMMADIYAH, dan yang lainnya. Islam harus bersatu.

Ini aku, berjiwa NU bermental FPI.

*Sebagian pemahaman ini dari diskusi kecil antara aku dengan abangku, bisa mampir di fazasyahriza.blogspot.com

Alhamdulillahirabbil 'aalamin.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya

Minoritas di Kampung Mayoritas

Kasih tanpa kekangan.