Hamba Remedial
Andai Tuhan
menciptakan manusia untuk saling mengalahkan satu sama lain, manusia tak akan
sanggup. Manusia memang hamba paling sempurna. Namun, kesempurnaan itu malah membuat
manusia terlena. Sesuatu yang merasa sempurna tak akan mengetahui dimana celah
kecacatannya. Berbanding terbalik dengan sesuatu yang selalu merasa kekurangan,
sesuatu tersebut akan berusaha mencari dimana celah kekurangannya dan akan
senantiasa memperbaikinya agar menjadi baik.
Ketika produsen Nokia
merajai pasar telepon genggam, mereka sudah merasa menjadi pemenang dan tak
terkalahkan. Segala jenis telepon yang mereka keluarkan laku keras meskipun
mereka buat dengan model yang biasa saja. Sama seperti manusia yang merasa
dirinya sempurna. Manusia tak lagi menganggap ada hamba lain yang mampu
menandinginya. Tumbuhan dan lingkungan tak lagi diperhatikan. Kerusakan alam
ada dimana-mana. Manusia sudah merasa jumawa dan tak peduli terhadap hal-hal
itu lagi. Juga dengan hewan-hewan yang diperlakukan dengan sembarangan. Tendang
sana, tendang sini. Bunuh sana, bunuh sini.
Tetapi pada akhirnya,
produsen Nokia sudah tidak peduli lagi dengan perkembangan gadget dan keinginan
para konsumennya. Mereka hanya terjebak dengan label terkenalnya. di waktu
bersamaan, produsen Samsung dan Apple terus mempelajari dan mencari
kesalahannya. Dan terbukti! Nokia yang masih terjebak dengan kesombongan itu
kini tidak ada apa-apanya dibanding Samsung & Apple.
Padahal, andai ada
perlombaan makhluk terberani di alam dunia, Singa dan saudara-saudaranya tentu
akan menjadi juaranya. Berapa banyak manusia yang mati begitu saja dihadapan
singa. Bahkan harus melawan dengan senjata api ketika Singa maju tanpa alat
bantu apapun. Andai ada perlombaan makhluk termerdu dalam suaranya, manusia
akan mendapat perlawanan yang hebat dari burung Kenari yang telah terkenal
sejak dulu keindahan suaranya. Andai ada perlombaan usia tepanjang-pun, manusia
akan kewalahan melawan kura-kura yang mampu hidup di dunia selama ratusan tahun.
Hal ini sangat lucu
adanya. Manusia adalah hamba paling sempurna, tapi bukan hamba terbaik. Bahkan,
aku menyebut manusia dengan hamba remedial. Manusia belum mampu berada di atas
nilai rata-rata yang diujikan Tuhan. Ketika manusia menyebutkan sebagai hamba
paling sempurna, gelimang maksiat masih berselimut di dalamnya. Manusia belum
mampu menggunakan seluruh kesempurnaannya untuk menjadi hamba terbaik. Bagai
motor Ninja yang sudhah teruji kecepatannya, paling bagus mesinnya, dan paling
mewah dalam segala sparepartnya, motor Ninja tersebut malah melewati jalanan
yang banyak batu. Batu tersebut terus menjadi penghalang jalannya motor Ninja.
Motor Ninja yang awalnya menjadi tercepat kemudian melewati jalan yang penuh
batu berserakan, motor Ninja tersebut tidak bisa menggunakan kesempurnaannya.
Artinya, segala kebaikan yang ada di motor tersebut tidak dapat dimanfaatkan
karena adanya batu tadi.
Manusia adalah motor
Ninja yang menjadi motor paling sempurna di dunia ini. Tetapi, ketika ada 2
jalan yang disediakan, motor tersebut malah melewati jalanan
berbatu yang sudah pasti mengurangi kecepatannya. Ketika manusia telah
diberikan kesempurnaan, manusia juga diberikan jalan kebaikan dan penuh cahaya.
Tuhan telah menunjukkan jalan itu melalui kanjeng nabi. Tetapi, manusia lebih
memilih jalan yang buruk dan sesat. Bahkan hingga tiada kesempurnaan lagi yang
dapat ditunjukkan. Kesempurnaan yang telah dimiliki akan menjadi kehinaan. Ikan
yang tidak bisa bernafas diluar air senantiasa berdzikir kepada-Nya. Namun, manusia
yang mampu melakukannya, sangat sulit untuk bersyukur kepada yang telah
memberikan kenikmatannya.
Hamba remedial juga
menjadi arti, ketika melakukan kesalahan, manusia senantiasa mengharapkan belas
kasih dari Tuhan. Tuhan pun memberikan remedial melalui jalan taubat
sungguh-sungguh kepada-Nya. Tapi pada faktanya, remedial itu hanya sebagai
formalitas dari seorang hamba. Berikutnya? Manusia masih melakukan kesalahan
lagi. Berulang, berulang, dan berulang. Manusia masih berharap adanya remedial
kedua, ketiga, dan seterusnya. Pintu taubat Tuhan memang sangat luas. Tetapi,
murid bodoh yang terus-terusan melakukan kesalahan dan terus-terusan meminta
remedial juga tak akan bisa diterima semudah itu. Sang guru tentu mempunyai
kebijakan lain disamping memberikan remedial tersebut. Sang guru lebih meminta
kesungguhan dibanding menganggap enteng remedial dan sikap tidak peduli
terhadap kesalahannya. Tuhan maha pengampun, pemaaf, dan menerima taubat.
Tetapi, Tuhan juga maha adil. Bagi yang menganggap enteng taubat, Tuhan juga
akan menganggap enteng esensi taubat itu. Dan jika Tuhan telah menganggap
enteng seperti itu, nilai taubat sebanyak apapun meski tidak jera akan sulit
diterima.
Menjadi hamba di atas
rata-rata adalah suatu harapan terbaik bagi khalifah di bumi ini. Sesekali
mungkin memang harus ada remedial sebagai pengingat. Tetapi, mari manfaatkan
remedial itu dan tetaplah menjadi hamba dengan predikat sabiqun bil
khairat.
-@fatwazmi
Komentar
Posting Komentar