Kyai Kampung, Masih Worth It?
Menjadi seorang kyai adalah suatu pengabdian besar seorang insan terhadap Tuhan. Sebagai pewaris nabi, kyai mempunyai tanggung jawab besar untuk mengangkat moral dan masa depan umat. Dengan berbagai label kyai, aku masih terlalu erat dengan kyai kampung. Entah apa alasanku untuk lebih mengeratkan diriku dengan label kyai tersebut.
Memang tak banyak perbedaan antara kyai kampung dengan label kyai modern,
keduanya sama-sama mengabdikan diri untuk agamanya. Tetapi, aku melihat kadar
kesederhanaan dan keikhlasan yang lebih membuatku tertarik kepada hal tsb.
Pengajian yang ‘ala kadarnya’ di atas karpet majelis yang cukup usang,
dengan meja kayu yang sudah reyot karena dimakan rayap, dan juga pengeras suara
yang terkadang storing (nguing). Sederhana bukan?
Kalau engkau melihat dari sudut pandang ini, tentu kau akan melihat
perbedaan yang cukup berbeda dengan kajian-kajian yang akhir-akhir ini mulai
tenar.
Jamaah kyai kampung tak tentu jumlahnya, kyai kampung hanya mengajar dan
terus mengajar dengan ikhlas. Kondisi pekerjaan jamaah kyai kampung yang
rata-rata hanya menjadi petani, pedagang, dan usaha kecil-kecilan tak
menyurutkan semangatnya untuk terus mengaji. Bahkan niat jamaah kyai kampung
untuk mengaji aku rasa lebih tinggi dibanding yang lainnya.
Kyai kampung tetap memegang kesederhanaan dan keikhlasannya. Kyai
kampung tak pernah meminta materi atau balasan apapun dari jamaahnya, meski terkadang
para jamaah mengakalinya dengan memberikan sejumlah sembako ataupun jasa yang
bisa menyenangkan hati kyainya. Kyai kampung hanya menginginkan semangat para
jamaahnya untuk tetap istiqamah mengaji dan memperdalam ilmu agama islam.
Suara yang terdengar serak, batuk, dan renta sudah tak asing lagi. Untuk
mencegahnya, jamaah harus menyiapkan segelas air putih dihadapan kyainya.
Dipenghujung pengajian, para jamaah biasa berbaris untuk menyalami kyai
secara bergantian. Ada yang dengan satu kali salaman, ada yang dengan
bolak-balik, ada yang sambil menyelipkan amplop.
Pernah ada cerita unik ketika salah satu kyai kampungku, yakni Muallim
Syafii Hadzami menerima amplop dari jamaahnya, beliau menerima amplop itu satu
persatu, kemudian ketika beliau hendak keluar dari masjid tersebut masih ada
jamaah yang menyalaminya. Seketika itu tangan muallim merogoh kantongnya dan
memberikan amplop itu kepada jamaahnya dengan acak satu persatu hingga habis
semua amplop yang tadi diberikan oleh jamaahnya.
Semakin banyak label kyai yang hadir hingga saat ini, dari yang pakai
peci hitam, peci putih, hingga tak berpeci. Tak perlu mencari kesalahan antara
semuanya. Kajian yang bermanfaat, tanpa menyalah-nyalahkan kelompok kajian lain
tentu akan membangkitkan semangat syiar islam.
Namun, aku berpesan kepada
saudara-saudaraku yang ingin mencari ilmu keagamaan yang bersanding dengan ilmu
kehidupan, carilah kyai kampung.
Engkau timba ilmunya, engkau hormati dirinya, engkau contoh sikap dan
perilaku teladannya.
Komentar
Posting Komentar