Ahok Diciptakan Untuk Menguji Islam di Indonesia
Post tulisanku yang sebelumnya,
Menjadi Pemimpin Bukanlah Impian, Tetapi Sebuah Pilihan by Fatwazmi
Assalamu’alaikum
Pagi ini, disaat matahari muncul dengan teriknya,aku
sedang asyik terburu-buru menyiapkan
perlengkapan sekolahku. Semalam, aku masih terbangun sampai jam 2 pagi. Waktu
tidurku memang sedang sedikit terganggu. Setelah perlengkapanku selesai, aku
membuka hpku untuk sekedar melihat kabar dan pemberitahuan terbaru / ter-update
pada hari ini. Dizaman seperti ini, memang menjadi hal lucu jika seseorang
terlambat mengetahui informasi yang sedang dibicarakan.
Bagaimana tidak? Setiap menit, bahkan setiap detik, kabar
terbaru muncul dan hinggap dengan cepat. Tak perlu lagi datang ke lokasi
kejadian atau menunggu lama. Cukup membuka beranda facebook / twitter
kemudian membuka tautan yang mengarahkan ke berita lebih detail dan jelas. Informasi
yang bersifat real akan tercampur informasi yang bersifat hoax jika
seorang netizen kurang pandai dalam mengolah pemikiran dan kepercayaan.
Portal berita mainstream hingga antimainstream
menjadi bahan panutan. Terkadang, tak peduli lagi apakah portal berita tersebut
dapat dipercaya atau tidak. Apalagi ditambah hadirnya whatsapp yang
menjadi sarana berbagi antara satu orang ke orang lain juga satu grup ke grup
lain.
Hari ini seluruh portal berita di Indonesia bahkan di luar
negeri sibuk membahas tentang vonis pada sidang penistaan agama oleh terdakwa
Basuki Tjahaya Purnama. Persidangan ini memang menjadi bahasan utama pada 1
tahun terakhir ini. Bagai menjadi kisah serial ‘Tukang Bubur Naik Haji’ yang
bertahan sangat lama dan tak lekang oleh waktu. Bahkan kisah persidangan ini
akan berpotensi berlanjut dalam jangka panjang atau mungkin tak berakhir.
Perjalan berliku ini banyak menggambarkan emosi dan panasnya
persaingin antar 2 kubu. Pro ahok atau Kontra Ahok. Begitu orang menyebutnya.
Apalagi, persidangan ini dibumbui oleh politik yang tambah menghangatkan
gonjang-ganjingnya. Pertaruhan politik dianggap memicu adanya persaingan ini.
Namun, anggapan itu dibantah karena persidangan ini murni atas nama agama dan demi
terciptanya kedamaian di Indonesia.
Sebelumnya, a man called Ahok ini dianggap menjadi
malaikat oleh para pendukungnya. Ahok dipercaya menjadi penyelamat bagi kaum
miskin di Jakarta yang hidup dengan penuh harapan. Ahok naik jabatan menjadi
orang nomor 1 di Jakarta setelah ‘melenggangnya’ Joko Widodo yang disodorkan
untuk menjadi RI 1. Prediksi mayoritas masyarakat Jakarta memang benar. Setelah
‘melenggangnya’ Joko Widodo ke singgasana impiannya, Ahok juga naik ke jabatan
gubernur di Ibukota negara ini. Iya, seperti mendapat durian runtuh.
Di kubu kontra Ahok, terdapat barisan kaum muslimin yang
dipimpin oleh ulama. Ulama yang dianggap berada pada jalan lurus. Menurut mereka,
masih ada juga ulama yang tidak sependapat atau bahkan dainggap menyimpang dari
ajaran islam yang sebenarnya. Aku tak mau menanggapi hal itu. Menurutku, kalau
ada seseorang yang mengaku dirinya berilmu, namun tidak sesuai dengan ajaran
islam, iya itu bukan ulama.
Akhir-akhir ini, nama Habib Rizieq Shihab banyak tertulis di
media. Nama beliau banyak mendapat perhatian dan menjadi nama yang sangat
berkontribusi dalam perjuangan agama islam pada saat ini. Beliau didaulat menjadi imam oleh masyarakat
islam di Indonesia. Sebenarnya, nama beliau dan organisasi masyarakat dibawah
pimpinan beliau yakni ‘Front Pembela Islam’ atau ‘FPI’ sudah banyak berkelana
di bumi Indonesia. Organisasi tersebut sudah melintang jauh untuk memberantas
kemaksiatan dan membantu korban bencana alam. Tetapi, karena sikap organisasi tersebut
yang cukup kritis membuat banyak pula kelompok yang menentangnya. Aku tak tahu
karena alasan apa.
Kembali ke pembahasan pada saat ini. Perjalanan Ahok memang
sangat mulus pada awalnya. Banyak masyarakat Jakarta yang mendukungnya. Iya walaupun
sebenarnya bukan masyarakat Jakarta asli. Karena memang masyarakat asli Jakarta
banyak yang sudah terang-terangan untuk menolak Ahok.
Ketika semua mata tertuju keapadanya, para pendukung
membelanya mati-matian, sampai kekuatan besar dibelakangnya menyokongnya dengan
dana triliyunan rupiah, Ahok sudah menganggap dirinya dapat berkuasa di tanah
betawi ini. Namun sikapnya yang arogan serta ucapannya yang seringkali bernada
kasar malah membunuh karakternya sendiri. Ahok hancur dan tumbang bukan karena
siapa-siapa. Aku sangat mengerti bagaimana susahnya masyarakat muslim Jakarta
yang menginginkan gubernurnya muslim jika Ahok tidak menghancurkan dirinya
sendiri. Disaat ia sedang jaya-jayanya, tuhan menegurnya. Lidahnya terpleset
bagai menunjukkan karakter aslinya. Mulutnya mengucapkan kalimat yang menjadi
bahan bukti kasus penistaan agama olehnya. Hal itu terjadi ketika ia sedang melaksanakan
tugasnya bersama pemprov DKI Jakarta di kepulauan seribu. Hal itu memang sangat
tidak pantas diucapkannya. Pertama, ia sedang berada dalam waktu kerja atau
dalam tugas dinas yang tidak berhak digunakan untuk kampanye atau mengunggulkan
dirinya, apalagi kampanye hitam. Kedua, ia sangat tidak berhak mengomentari
ajaran agama yang bukan dianutnya. Tanpa dasar apa-apa, tanpa tahu apa-apa,
mungkin ia juga tidak tahu apa isi dan tulisan dalam surah Al-Maidah ayat 51
tersebut.
Pada saat itulah, persatuan dan keberagaman Indonesia yang
sedang dalam damai-damainya sedikit tergoyah. Bhinneka Tunggal Ika yang selama
ini diserukan malah sedikit terganggu akibat satu masalah.
Tak berselang lama, jutaan umat Islam Indonesia menuntut
keadilan. Mereka tak ingin diam saja kitab sucinya dinista. Mereka tak mau
se-enaknya dihina begitu saja. Mereka yang selama ini menjunjung kedamaian
penuh tak mau terpecah belah akibat perbuatan tersebut. Mereka berunjuk rasa
dalam beberapa kali. Jumlahnya yang sangat banyak malah dianggap remeh,
apalagi terbesit dipikiran kalau Ahok berada didalam pusaran kekuasaan pada
saat ini, sehingga sulit menjatuhkanya. Ia pasti didukung oleh penguasa pada
saat ini. Hal itu terbukti sedikit demi sedikit.
Pada saat sidang terdapat sebuah permasalahan baru. Ahok
terlihat memfitnah salah satu ulama besar yang menjadi ketua umum Majelis Ulama
Indonesia pada saat ini. K.H. Ma’ruf Amin. Namun, setelah beberapa hari
terlihat salah satu penguasa di pemerintahan saat ini yakni Luhut Pandjaitan
menyambangi kediaman K.H Ma’ruf Amin untuk meminta maaf. Pertanyaan besar
semakin besar. “Ada hubungan apa antara Ahok dengan Istana?” Bagai sebuah
rahasia besar yang semakin terbuka. Publik semakin mengerti rezimnya pada saat
ini.
Unjuk rasa umat Islam di Indonesia ini dilakukan
besar-besaran di berbagai kota. Unjuk rasa yang masih mengatasnamakan kedamaian
ini tetap saja tak digubris, bahkan dianggap ancaman makar dan fitnah-fitnah
keji lainnya. Umat Islam ini masih menunjukkan sikap kesabaran dan taat hukum.
Umat islam akan kuat jika mereka saling menahan satu sama lain. Kebersamaan ini
sangat terasa pada tanggal 2 bulan 12 tahun 20016 kemarin. Berbagai ormas Islam
yang kadang terlihat berseteru kini bergabung dengan khidmatnya. NU, FPI,
Muhammadiyah, HTI, PERSIS, dan yang lainnya berada dalam satu panji, kalimat
takbir, AllahuAkbar.
Semakin panjang prosesnya, semakin banyak tantangannya. Dari
mulai fitnah kepada imam besar FPI yakni Habib Rizieq Shihab yang tak pernah
terbukti kebenarannya, lalu ke ancaman makar yang malah dianggap lelucon, sampai isu SARA yang
didengungkan tak pernah benar adanya. Dan lucunya, fitnah itulah yang malah
berbalik ke mereka. Seperti beberapa waktu pada minggu lalu, aksi rasisme oleh
salah seorang keturunan etnis cina yang bernama Steven menghina seorang ulama
yang juga seorang gubernur Nusa Tenggara Barat yaitu Tuan Guru Bajang Zainul
Majdi. Kejadian yang terjadi pada sebuah bandara. Iya, Steven menghina dengan
kata-kata ‘TIKO’ yang berarti sesuatu hal keji kepada pribumi.
Kejadian tersebut semakin menggemparkan dan menggeramkan.
Namun lagi-lagi, umat Islam yang mayoritas di negeri ini masih mengelus dada
dan bersabar. Bukannya mengalah, namun mereka tahu bagaimana caranya bersikap
seperti yang diajarkan nabinya, Baginda Nabi Muhammad SAW.
Gara-gara Ahok, negeri ini memang banyak diuji, apalagi
rakyatnya. Bagaimana keadilan dan keberagaman dihancurkan oleh seseorang yang
dianggap pahlawan oleh para fansnya. Terlalu banyak kekejian yang digambarkan,
namun, aku lelah membahasnya. Biarlah, mungkin hukuman penjara 2 tahun itu bisa
membuatnya jera. Juga kepada petinggi-petinggi lain yang bersikap se-enaknya. Apalagi
yang menyangkut tentang tuhan dan ajaran agama sesorang. Kritis rasanya. Semoga
hal ini juga menjadi pelajaran bagi umat Islam di Indonesia dan di dunia
lainnya. Buah kesabaran yang indah, diselingi dengan meminta pertolongan kepada
tuhan. Umat Islam akan jaya, terlepas dari khilafah atau tidak.
Diujung tulisan sederhana bocah ingusan ini, aku ingin
menuliskan quote yang berasal dari firman Allah SWT, namun aku kemas dengan bahasaku.
“Ini agama tuhan. Tuhan yang menurunkan kitab suci
terindahnya. Tuhan pula yang menjaganya. Siapapun yang berani menjelekan
keindahannya, ia berurusan dengan tuhan.”
-@fatwazmi, Jakarta.
Wassalamu’alaikum.
Mantapppppppppp7x bos.
BalasHapus