Minoritas di Kampung Mayoritas
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Telinga semakin panas, mulut semakin pedas. Ingin rasanya mengakhiri ini semua. Tapi bagaimana caranya? Aku hanya seorang wong cilik yang belum bisa banyak membela kampungku ini. Jakarta. Semakin hari semakin banyak berita tak meng-enak-kan tentang kampungku ini. Media sosial, media elektronik, sampai debat langsung semakin gempar. Masing-masing membela pilihannya sampai mati-matian. Entah mereka dibayar berapa sampai rela seperti itu. Memang sih, ini masalah yang sangat rentan. Pemimpin. Tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin di negeriku ini. Lucunya, orang pribumi asli jakarta tak banyak berkontribusi. Kampung ini hanya menjadi arena dan sarana bagi mereka yang saling bertarung mempertaruhkan kepemimpinannya. Sebut saja bagi mereka yang membela ahok. Orang belitung yang ber-etnis tionghoa. Aku tak mau rasis. Walau dalam hati kecil aku merasa banyak pribumi yang tertindas karenanya. Dengan status agama non-muslim yang banyak menjadi perdebatan dia berhasil menarik hati rakyat jakarta dengan sikapnya yang banyak dibilang 'tegas' atau apalah. Tapi, setelah sikapnya itu /malah/ banyak yang men-dewa-kannya, segala apapun direlakan demi pujaannya itu. Sejak pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2012, aku dan keluargaku sudah mulai risih dengan adanya calon wagub yang berasal dari non-muslim serta bukan masyarakat pribumi asli. Padahal di Jakarta banyak sekali slogan "Kalo bukan kite yang jaga kampung kite, siape lagi?" Kata-kata mutiara itu malah menjadi boomerang bagi masyarakat asli jakarta sendiri. Pukulan keras bagi para generasi muda, bagaimana sang tuan rumah tidak bisa mengurus rumah tangganya sendiri? Malah memilih tamunya yang kita tak tahu apa ada sesuatu yang lain dibaliknya. Hal itu semakin aneh sejak ternyata pemilihan itu dimenangkan oleh pasangan tsb. Memang, untuk 5 tahun ke belakang mungkin masyarakat asli jakarta yang menetap di kampungnya sendiri mungkin tidak lebih dari 60%. Banyak mereka yang menjual tanah di kampungnya dan memilih tinggal di pinggiran. Dan sisanya berasal dari masyarakat luar jakarta yang 'numpang' bertahan hidup di jakarta. Setelah perjalanan panjang itu, kini terjadi pertarungan lagi, apakah masyarakat jakarta masih mau 'di bodohi' atau masyarakat ini sudah sadar. Terlalu banyak kontroversi yang terjadi selama 5 tahun ini, apa masyarakat jakarta masih mau seperti ini? Memang sudah banyak penolakan-penolakan secara blak-blakan, namun bagi mereka yang pro, mereka biasa-biasa saja. Seperti halnya kemarin waktu, ketika tersebarnya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh yang kalian anggap pemimpin itu. Ketika menonton video tentang penistaan agama itu aku merasa sangat resah. Pada saat itu dia sedang berkunjung ke kepulauan seribu. Di salah satu pembicaraannya dia mengatakan bahwa "dibohongi oleh Al-Ma'idah 51.." dan disaat itu juga aku melihat cecunguk-cecunguknya /malah/ tertawa bagai sebuah lawakan. Huh, jika saja aku ada di tempat itu, bagaimanapun caranya akan aku lakukan untuk menghentikan bahkan melawannya secara langsung, tak memandang lagi siapa dia, miris. Dan saat ini sudah banyak yang melaporkan kejadiannya, aku sudah menebak, TAK BANYAK RESPON DARI LEMBAGA HUKUM. Ini negeri yang taat hukum atau negeri dagelan. Bodoh! Aku malu. Aku malu jadi warga negara ini jika negara iji sendiri tidak menaati hukumnya. Aku tau, aku bukan orang yang suci. Tapi, untuk masalah ini, aku, seorang bocah yang masih berumur 15 tahun sudah mengerti. Aku sudah paham caranya bagaimana jika ajaran agamaku sendiri di nistakan. Bahkah jika dengan cara sadis, bisa saja darah dia itu menjadi halal hukumnya. Walau aku juga tak setuju dengan cara itu jika ada cara yang lebih baik lagi. Sudahlah, aku lelah. Sekarang tinggal respon dari generasi muda muslim penerusnya, biarkan masa lalu itu jadi pelajaran dan menjadi cambukan bagi sebelumnya, yang mudah dibohongi oleh tipu daya yang mereka lakukan. Dan ingat, sebaik-baiknya non-muslim yang menjadi pemimpin, mereka tak akan rela masyarakat muslim hidup dengan tenang, sejahtera. Dengan cara apapun mereka bakal menganggunya sampai kita ikut kepada ajaran mereka. Untuk sekarang, memang tak terasa secara langsung akibatnya. Tapi, untuk masa depan generasi muda ini sangat menjadi pr besar. Bagaimana jika masa depan pengajian-pengajian islam dilarang dengan berbagai alasan? Bagaimana jika masa depan tempat ibadah umat islam tidak bisa dibangun dengan mudah dan dipersulit perizinannya? Bagaimana jika generasi muslim selanjutnya dilarang untuk melakukan ibadah agama islam dengan baik?
Cak Nun / Emha Ainun Nadjib pernah beranekdot. "Boleh saja untuk sekarang pemimpin tidak sholat, tapi untuk selanjutnya mungkin boleh saja mungkin pemimpin tak beragama, atau mungkin sekarang pemimpin boleh dari luar pribumi mungkin untuk selanjutnya boleh dari orang asing."
Sekarang, tinggal lah masyarakatnya yang diberikan pilihan, jika al-maidah ayat 51 masih tidak bisa diterimanya biarlah logika yang berfikir, bagaimana jika jakarta ini menjadi singapura part 2, menjadi filipina part 2. Atau masyarakat jakarta sudah sadar tentang pemikirannya.
-Kenapa sih aku yang masih bocah ingusan ini malah mengomentari hal yang bukan permasalahannya?
+Maaf, aku bukan dibayar untuk kampanye ataupun menjatuhkan satu pihak, ini pemikiranku sendiri, dan ingat, pilihan yang sekarang dijatuhkan akan menjadi tanggung jawab aku dan generasiku. Generasiku yang akan terkena imbasnya. Generasiku yang akan merasakan manis/pahitnya pilihan yang sebelumnya.
Mudah-mudahan saja, bagi kalian yang masih ragu atas pilihan kalian menjadi yakin atas pilihannya bahwa pemimpin muslim dengan alasan apapun masih lebih baik. (Dengan izin dan ridhanya Allah SWT) dan untuk kalian yang masih ter-tipu daya oleh acting nya, semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi kalian, memberikan cahaya kebenaran kepada kalian demi generasi yang akan datang Aamiin.
°Mending pemimpin muslim yang amanah daripada kafir yang zholim.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
-Fazsyh-
Mantep fat. . lanjutkan berkarya kalonbisa si terbitin buku fat
BalasHapussalam dri kwn lama
beuh ilah, siap beh siap, tungguin dah ye, buku yasin:v
Hapus