Negeri setengah manusia.
Judul aneh, bahasan aneh, untuk orang-orang aneh. Negeriku yang aku cinta, kini engkau hanya cerita. Entah siapa yang merubah mainset bangsa dari negeri ini yang pasti aku membenci itu. Aku bingung memulai darimana, terlalu banyak coreng yang aku mau tuntaskan. Bagaimana jika aku memulai dari sejarah? Baiklah. Sejarah. Dari bahasa arab dengan arti pohon. Setiap pohon mempunyai akar yang menjadi suatu bagian dari pohon yang pertama kali tumbuh. Dari situlah pohon bisa menjadi besar. Tentu, pohon yang besar tak akan ada jika tak ada akar yang kuat.
Lalu apa hubungannya sejarah dengan indonesia? Oke, indonesia terlahir dari sejarah besar yang orang darimanapun yang cinta indonesia pasti tahu bagaimana sejarah besar itu terjadi. Sebelum belanda datang, indonesia sudah menjadi 'sarangnya' kerajaan-kerajaan besar. Hindu-Buddha-Islam. 3 agama mempunyai kerajaan besar yang hidup di indonesia. Kerajaan-kerajaan besar itu menjadi saksi bagaimana 'kaya' nya sejarah negeri kita.
Lalu, masa belanda datang. 350 tahun belanda 'menumpang hidup' di indonesia. Indonesia dijajah dengan segala macam cara. Tapi, indonesia tetap kuat. Banyak perlawanan dari rakyat jelata yang kerjanya mungkin cuma buruh angkut melawan jenderal yang dibahunya selalu siap senjata perang. Bagaimana tidak hebat? . Tak punya senjata? Bambu runcing disamping rumah ada. Semuanya bersatu, dari kalangan rakyat atas, santri di pondok pesantren, hingga pejuang dari daerah kecil yang mungkin tak dikenal. Mereka semua hanya punya satu tujuan. Usir belanda!
Belanda dengan segala macam kemewahannya malah kalah hanya dengan semangat di dada yang tak nampak jika dipandang mata.
Setelah itu, jepang muncul. 3,5 tahun mereka menindas indonesia. Ah, tapi akhirnya kandas juga. Singkat cerita Indonesia akhirnya merdeka.
Indonesia punya banyak sejarah, dengan segala semangat kebersamaan, juga dengan sikap-sikap positif yang bisa menjadi contoh untuk generasi bangsa indonesia ini. Ingat, indonesia tidak pernah mengemis, walau terkadang bangsa ini meringis tapi kami tetap optimis. Bekal untuk generasi bangsa yang sangat indah sudah disediakan oleh leluhur. Tinggal menjalankan apa yang baik dari bekal tersebut mungkin sudah cukup untuk membuat bangsa indonesia ini menjadi nomor satu di dunia. Alah, omongan aku itu hanya bermimpi. Tapi, mungkin juga bisa terjadi. Nanti kali. Entah kapan. Hanya kita yang bisa menentukan.
Begitu aku bermimpi seperti itu, aku malah mendengar sayup-sayup suara berita dari televisi rumahku. "Seorang anak tega memenjarakan gurunya hanya karena menasehati tindakannya yang tidak baik." aku langsung menuju televisi itu. Tuhan, dosa macam apalagi di bangsa ini. Kemana moral bangsa ini tuhan? Tolong kembalikan lagi. Guru yang seharusnya menjadi orang nomor 2 setelah orangtua, malah seperti babu yang tidak mengerti apa-apa. Aku lihat raut wajah guru itu yang aku tak mampu melihatnya, wajah penuh kekecewaan, penuh luka yang tak akan pernah tersembuhkan. Sejenak aku diam, tak mungkin seorang murid bisa bertindak seperti itu tanpa orangtuanya. Orangtua macam apalagi itu yang malah mengajarkan anaknya apa itu kedurhakaan. Durhaka terhadap guru. Bisa saja si guru itu bersumpah agar muridnya menjadi batu. Lagi-lagi tidak akan si guru tega sepenuhnya bersumpah seperti itu. Dahulu, waktu aku bersekolah, aku pernah mengadu kepada orangtuaku tentang kesalahanku di sekolah. Lalu guruku menghukumku dengan menghantamkan penggaris kayu kepadaku. Aku harap ada pembelaan dari orang tuaku. Tapi, apa yang terjadi? Malah semburan dari orangtuaku yang aku terima. Semburan nasehat yang amat sangat menusukku. Mengapa aku bisa melakukan kesalahan di sekolah itu. Ya, mungkin beberapa saat aku langsung 'ngambek' terhadap nasehat itu. Tapi, malah sekarang aku baru mengerti. Kalau dari guru saja kita durhaka. Bagaimana nasib bangsa ini? Mungkin 30 tahun lagi sudah tiada. Ah tidaklah, itu terlalu lama, mungkin 10 tahun mendatang sudah hancur semua moral. Moral yang susah payah diajarkan, hancur begitu mudahnya hanya dengan tontonan sinetron 2 jam sehari pada saat azan maghrib mau dikumandangkan. Begitu saja tuh, mudah kan? Lagi-lagi orangtua yang menjadi penanggung jawab dirumah. Eh malah orangtuanya ikutan. Hadeh. Sinetron berbalut cinta, kemesraan, kekerasan, pembullyan, pembedaan kesetaraan, sampai cerita fiksi yang sangat tidak mungkin hidup dalam kehidupan sinetron. Sudahlah, aku sudah lelah. Buah tak jauh dari pohonnya sudah tak mempan untuk menjadi mantra. Indonesiaku, maafkan kami. Karena pejuang kau hidup, karena pengguna negeri ini kau mati.
fatwa azmi sy. 8 juni 2016. Ramadhan di pagi buta.
Komentar
Posting Komentar