[Love: between LOse or haVE -1-]

Bel istirahat udah terdengar nyaring, tapi tetep aja guru matematika gue masih ngejelasin rumus-rumus yang gue belum tau manfaatnya apa. Matematika nyuruh ngitungin luas tanah orang yang gue aja ga kenal. Kalo punya bokap gue sih boleh dah. Sampe akhirnya temen gue yang duduk disamping gue nyeletuk dengan entengnya, "Tadi kaya ada suara bel dah bu,"  Setelah celetukan itu keluar dari temen gue yang polos itu akhirnya guru matematika gue langsung membereskan buku-bukunya, entah merasa tidak dianggap atau memang beliau mau istirahat juga. Temen gue yang polos itu namanya Syafiq, senyum kemenangan muncul dibibirnya tanpa rasa salah. Tapi banyak juga dari temen gue yang lain "berterimakasih" atas celetukannya tersebut.

Setelah itu, gue ngajak syafiq buat beli jajanan ke bawah, karena memang kelas gue ada di lantai 3. Tapi,  ketika gue keluar dari pintu kelas 11C itu gue ketemu Alif yang lagi bercucuran keringat sambil tertawa tanpa arti. Gue tau, pas pelajaran matematika tadi dia kabur entah kemana, sudah diabsen alfa sama bu rifnah. Hal kaya gitu udah engga aneh lagi, bahkan hampir setiap pelajaran matematika dia seperti punya ilmu khusus menghilang, dicaripun susah ketemunya, gila memang! Sebagai teman sekelasnya, juga sebagai ketua kelasnya, gue udah sering ngingetin dia untuk paling engga hadir dipelajaran matematika walaupun saat pelajaran itu berlangsung ia tertidur atau menggambar sesuatu yang menjadi hobinya. Batu! dia tetap saja melakukannya, biarlah, yang penting tanggung jawab gue buat ngingetin udah lunas.

Gue dan syafiq-pun turun melewati tangga dan kelas-kelas bawah. Ketika gue lewat di depan 10B Sekilas gue melihat satu sosok yang gue idamkan selama ini . Mata gue langsung teralih ketika dia melihat balik ke arah gue, walau sebenernya gue engga yakin kalo misalkan dia lihat ke gue.

"Woy mi, lu mau makan apaan?" Suara Syafiq mengejutkan lamunan gue, gue baru sadar kalo ternyata gue udah di kantin. 2 mangkok bakso akhirnya kami pesan dan kami habiskan tak lebih dari 10 menit. Rasa lapar kami sedari pagi akhirnya terbayarkan. Setelah membayar bakso tersebut (Iyalah, -_-) gue dan Syafiq menunggu di serambi mushola yang berada disamping lapangan olahraga kami, biasanya kami bertiga, namun si Derry izin tidak masuk sekolah karena sedang sakit dan dirawat disalahsatu rumah sakit swasta di jakarta barat. Sudah sekitar seminggu dia dirawat. Diagnosa dokter menyebutkan bahwa ia terkena penyakit dibagian pernafasan. Saat gue dan Syafiq menjenguknya 2 hari yang lalu memang terdapat alat bantu pernafasan yang terdapat dihidungnya. Tubuhnya terkulai lemas, wajah pucat, serta badannya yang semakin kurus. Berbeda dengan sebelumya, dia lincah, bertubuh proporsional, dan sangat kuat apalagi saat bermain futsal. Seringkali dia bertugas menjadi gelandang bertahan, namun sekarang ia sangat berubah. Cepat sembuh Derr, kami rindu.

Sembari duduk-duduk di serambi mushola gue dan Syafiq berbincang dengan salah satu petugas mushola yang baru bekerja sekitar 1 bulan setengah, namanya bang Firman, usia 30an, kulit sawo matang, berpenampilan sederhana (Harga 300.000, boleh nego, ehh-_-) peci putih selalu menempel dikepalanya. Akhir-akhir ini gue dan Syafiq banyak mendapat cerita menarik tentangnya. Entah itu tentang masa kecilnya, keluarganya, bahkan kisah cinta masa mudanya. Dia bercerita bahwa dia pernahsangat mencintai seorang wanita yang ada disekolahnya, namun karena dia tidak berani mengungkapkannya dan dia sangat takut untuk menyatakannya akhirnya wanita itu malah menjadi milik sahabatnya. Cerita ini aneh memang, cuma gara-gara tidak berani mengungkapkan perasaannya, wanita yang diidamkan itu menjadi milik sahabatnya. Setelah cukup lama berbincang akhirnya bel masuk kembali terdengar, gue dan Syafiq langsung menuju kelas gue, karena setelah ini ada pelajaran IPS, KILLER!

Sepulang dari sekolah bayangan sosok itu kembali muncul, walau gue enggak pernah kenal dia, tapi ada sesuatu yang membedakannya dengan yang lain, spesial! Gue buka beberapa sosial media yang ada. Gue berniat buat mencari sosok spesial itu. Akhirnya di instagram gue melihat account dirinya. Andara Putri S. Nama itu terpampang di nama instagramnya,  @Dara_PTR menjadi usernamenya, foto profil dengan pashmina berwarna abu-abu itu menambah indah wajahnya. Subhanallah, bidadari darimana yang kau jatuhkan ke bumi ini wahai tuhanku?. Jari tangan gue menjadi kaku saat melihat account tersebut. Sampai-sampai gue engga sengaja menekan [follow]. Bahagia dan gelisah menjadi campur aduk.
Setelah hari itu, gue semakin lama, semakin memperhatikannya. Walau dengan malu-malu gue berusaha buat sekedar melihatnya, mendekat? Maaf gue belum berani, daripada gue terlalu gegabah.

Suatu saat, gue dipanggil oleh guru bahasa arab gue, Bu Vina, gue pun menghadapnya di dalam ruang guru. Ternyata, dia menyuruh gue untuk mewakilkan sekolah ini dalam lomba pidato bahasa arab tingkat kota. 4 hari menjadi waktu gue buat latihan, gila bukan, apalagi ketika hari jumat gue disuruh maju ke depan aula buat gladi resik lomba pidato gue, didepan anak-anak kelas 10 dan 11! Untungnya gue dibantu sama ayah gue buat bikin naskah itu dan selesai pada hari kamis. Keesokan harinya setelah sholat jumat, gue langsung disuruh ke aula, anak-anak kelas 10 sudah berjejer di barisan depan, Sedangkan anak-anak kelas 11 berada dibelakangnya, dan anak-anak kelas 12 tidak ada di aula karena sedang mempersiapkan ujian nasionalnya. Ketika gue mau masuk ke dalam aula, ternyata Dara sudah melihat gue yang sedang berdoa sebelum masuk ke aula. Namun, ketika gue mau melihat balik ke arahnya dia langsung beralih dengan senyuman kecil dibibirnya, manis sekali.

Mikrofon sudah diberikan ke gue, saatnya gue berlatih tampil pidato di depan umum, badan gue gemetar, ingin rasanya gue menyudahi ini. Saat gue melihat ke depan, ternyata senyum manis itu masih muncul, entah untuk menyemangati, atau hanya senyuman biasa. Alah, gue ga peduli, gue meyakinkan bahwa senyuman itu untuk menyemangati gue. Akhirnya tugas gladi resik itu berakhir. Dan disaat pulang dari sekolah...

[Love: between LOse or haVE -2-]
COOMING SOON!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reuni 212: Mencari Makna yang Sesungguhnya

Minoritas di Kampung Mayoritas

Kasih tanpa kekangan.